Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS)

    A.    Definisi HOTS (High Order Thinking)

Stein dan Lane (dalam Thompson, 2008) mendefinisikan higher order thinking yaitu memberikan pemikiran yang kompleks, tidak ada algoritma untuk menyelesaikan suatu tugas, ada yang tidak dapat diprediksi, menggunakan pendekatan yang berbeda dengan tugas yang telah ada dan berbeda dengan contoh-contoh yang telah diberikan.

Resnick (dalam Arends, 2008) mendefinisikan higher order thinking sebagai berikut:

a.         Higher-order thinking is nonalgorithmic; that is, the path of action is not fully specified in advance.

b.         Higher-order thinking tends to be complex.

c.         Higher-order thinking often yields multiple solutions, each with costs and benefits, rather than unique solutions.

d.         Higher-order thinking involves nuanced judgment and interpretation.

e.         Higher-order thinking is effortful. There is considerable mental work involved in thekinds of elaborations and judgments required.

Definisi yang diungkapkan oleh Resnick berpikir tingkat tinggi yaitu non-algoritmik yang arah penentuan jawaban tidak spesifik. Soal yang melibatkan proses berfikir tingkat tinggi cenderung kompleks dan merupakan soal yang memiliki banyak solusi maka dapat dikatakan bahwa jenis soal HOT salah satunya merupakan soal open-ended, melibatkan pendapat serta interpretasi dalam memecahkan masalah, dan melibatkan mental dalam bekerja seperti elaborasi dari berbagai macam hal serta memerlukan pertimbangan dan usaha yang tinggi.

Berpikir matematis dibagi menjadi dua level berdasarkan pendalaman materi serta kekomplekannya yaitu berpikir tingkat rendah dan berpikir tingkat tinggi. Hal ini diperjelas oleh Webb & Coxford (dalam Nishitani 2010;11) mengklasifikasi beberapa kegiatan dalam pembelajaran matematika seperti mengerjakan aritmatika sederhana, menggunakan aturan matematika secara langsung dan mengerjakan tugas algoritma merupakan golongan berpikir tingkat rendah. Sedangkan pemahaman yang berarti, memunculkan dugaan, membuat analogi dan generalisasi, logika yang beralasan, pemecahan masalah, mempresentasikan hasil matematika, dan dapat membuat hubungan antara dugaan, analogi serta logika termasuk kedalam berpikir tingkat tinggi.

Soal matematika dalam HOT juga salah satunya merupakan soal non-routine (soal yang tidak diketahui secara langsung penyelesaiannya). Seperti yang diungkapkan oleh Nishitani (2010;11) menyelesaikan soal matematika yang berlevel tinggi, siswa harus memiliki motivasi yang tinggi, antusias dan keinginan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan karena masalah yang diberikan tidak dapat diketahui secara langsung penyelesaiannya serta melalui beberapa proses.

B.     Indikator HOTS (High Order Thinking)

Ranah dalam Taxonomi Bloom digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti yang diungkap oleh Krathwohl (dalam Ayuningtyas 2012: 4) indikator untuk mengukur kemampuan berfikir tinggi meliputi menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi:

1.          Analyze (menganalisis) yaitu memisahkan materi menjadi bagian-bagian penyusunannya dan mendeteksi bagaimana suatu bagian berhubungan dengan satu bagiannya yang lain.

a.     Differentiating (membedakan) terjadi ketika siswa membedakan bagian yang tidak relevan dan yang relevan atau dari bagian yang penting ke bagian yang tidak penting dari suatu materi yang diberikan.

b.   Organizing (mengorganisasikan) menentukan bagaimana suatu bagian elemen tersebut cocok dan dapat berfungsi bersama-sama didalam suatu struktur.

c.     Attributing (menghubungkan) terjadi ketika siswa dapat menentukan inti atau menggaris bawahi suatu materi yang diberikan.

2.          Evaluate (mengevaluasi) yaitu membuat keputusan berdasarkan kreteria yang standar, seperti mengecek dan mengkritik.

a.    Checking (mengecek) terjadi ketika siswa melacak ketidak konsistenan suatu proses atau hasil, menentukan proses atau hasil yang memiliki kekonsistenan internal atau mendeteksi keefektifan suatu prosedur yang sedang diterapkan.

b.    Critiquing (mengkritisi) terjadi ketika siswa mendeteksi ketidak konsistenan antara hasil dan beberapa kriteria luar atau keputusan yang sesuai dengan prosedur masalah yang diberikan.

3.          Create (menciptakan) yaitu menempatkan element bersama-sama untuk membentuk suatu keseluruhan yang koheren atau membuat hasil yang asli, seperti menyusun, merencanakan dan menghasilkan.

a.      Generating (menyusun) melibatkan penemuan hipotesis berdasarkan kreteria yang diberikan.

b.    Planning (merencanakan) suatu cara untuk membuat rancangan untuk menyelesaikan suatu tugas yang diberikan.

c.       Producing (menghasilkan) membuat sebuah produk. Pada producing, siswa diberikan deskripsi dari suatu hasil dan harus menciptakan produk yang sesuai dengan diskripsi yang diberikan.

Adapun indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi menurut Lewy, dkk, ada lah sebagi berikut:

1.      non algorithmic.

2.      cenderung kompleks,

3.      memiliki solusi yang mungkin lebih dari satu (open ended approach),

4.      membutuhkan usaha untuk menemukan struktur dalam ketidakteraturan.

 

C.    Enam Tahapan Aktivitas Dalam Pembelajaran Matematika HOTS (High Order Thinking Skills)

Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivis adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator. Menurut pandangan konstruktivis dalam pembelajaran matematika berorientasi pada: (1) pengetahuan dibangun dalam pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi, (2) dalam pengerjaan matematika, setiap langkah siswa dihadapkan kepada apa, (3) informasi baru harus dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan pengalamannya, dan (4) pusat pembelajaran adalah bagaimana siswa berpikir, bukan apa yang mereka katakan atau tulis

Selain diperolehnya pengetahuan matematika, tujuan pembelajaran matematika adalah melatih kemampuan siswa untuk berpikir. Edward De Bono, memberikan secara prinsip, teknik ini mendorong siswa untuk berpikir sesuai dengan tahapan berpikir siswa. Enam topi berpikir adalah topi berwarna Putih, Kuning, Hitam, Merah, Hijau dan Biru. Masing-masing tahapan berpikir adalah sebagai berikut:

1.       Neutrality (white) – considering purely what information is available, what are the facts?

2.       Feeling (Red) – instinctive gut reaction or statements of emotional feeling (but not any justification)

3.       Negative judgement (Black) – logic applied to identifying flaws or barriers, seeking mismatch

4.       Positive Judgement (Yellow) – logic applied to identifying benefits, seeking harmony

5.       Creative thinking (Green) – statements of provocation and investigation, seeing where a thought goes

6.       Process control (Blue) – thinking about thinking

Karena siswa akan menjalani suatu proses yang akan membangun pengetahuannya dengan bantuan fasilitas dari guru serta meningkatkan kemampuan berpikir sebagai hasil belajar, mereka harus berperan aktif dalam kegiatan belajar, atau dengan kata lain keterlibatannya dalam proses belajar haruslah nampak. Diilhami oleh enam topi berpikir Edward de Bono ada beberapa aktivitas strategi yang ditempuh siswa untuk mencapai keberhasilan dalam belajar, dengan tujuan utama adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi. Keterlibatan siswa dalam proses belajar ini antara lain adalah :

1)      Menggali informasi yang dibutuhkan;

Masalah yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga menuntut siswa untuk melakukan investigasi konteks, sebab tidak semua informasi diberikan secara eksplisit.

2)      Mengajukan dugaan;

Siswa mengajukan dugaan penyelesaian masalah

3)      Melakukan inkuiri;

Dalam inkuiri, individu mengajukan pertanyaan dan mencari informasi yang cukup dengan mengkaji dan menganalisa informasi tadi untuk menjawab pertanyaan yang dimunculkan.

4)      Membuat konjektur ;

Suatu pernyataan matematika yang benar yang dihasilkan berdasarkan pengamatan atau eksplorasi, percobaan, namun belum dibuktikan kebenarannya secara formal adalah suatu bentuk kesimpulan secara umum, tetapi tidak formal. Ketika pernyataan ini dibuktikan secara matematika, maka konjektur tadi berubah namanya menjadi suatu teorema

5)      Mencari alternatif ;

6)      Menarik kesimpulan

Dalam proses ini tampak bahwa bukan selesaiannya yang menjadi tujuan utama, melainkan bagaimana siswa melakukan:

a.       Mengambil keputusan setelah melakukan investigasi matematika,

b.      Membuat argumentasi-argumentasi matematis dan kontekstual,

 

 

Daftar Pustaka :

 

Ayunigtyas, N, dkk. 2012. Proses Penyelesaian Soal Higher Order Thinking Materi Aljabar Siswa SMP Ditinjau Berdasarkan Kemampuan Matematika Siswa. UNESA. Surabaya.

Lewy, dkk. 2009. Pengembangan Soal Untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pokok Bahasan Barisan Dan Deret Bilangan Di Kelas IX Akselerasi SMP Xaverius Maria Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika Vol.3 No.2. UNSRI. Palembang.

Rosnawati, R. 2009. Enam Tahapan Aktivitas Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Mendayagunakan Berpikir Tingkat Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. UNY. Yogyakarta

 

 

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: