Mengenal Teori Belajar Ausubel

clip_image002          Nama lengkap Dr. Ausubel adalah David Paul Ausubel, seorang tokoh ahli psikologi kognitif yang dilahirkan di New York pada 25 Oktober 1918. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan pada siswa, melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasigeneralisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa.

Ausubel mengklasifikasikan belajar kedalam dua demensi sebagai berikut:

1)      Demensi-1, tentang cara penyajian informasi atau materi kepada siswa. Demensi ini meliputi belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final dan belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang diajarkan

2)      Demensi-2, tentang cara siswa mengkaitkan materi yang diberikan dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya. Jika siswa dapat menghubungkan atau mengkaitkan informasi itu pada pengetahuan yang telah dimilikinya maka dikatakan terjadi belajar bermakna. Tetapi jika siswa menghafalkan informasi baru tanpa menghubungkan pada konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya maka dikatakan terjadi belajar hafalan

clip_image004

Sepanjang kontinum mendaftar terdapat dari kiri ke kanan berkurangnya belajar penerimaan dan bertambahnya belajar penemuan, sedangkan sepanjang kontinum vertical terdapat dari bawah ke atas berkurangnya belajar hafalan dan bertambahnya belajar bermakna

Dari gambar diatas dapat dikatakan bahwa belajar penerimaan yang bermakna dapat dilakukan dengan cara menjelaskan hubungan antara konsep-konsep, sedangkan belajar penemuan yang masih berupa hafalan apabila belajar dilakukan dengan pemecahan masalah secara coba-coba. Belajar penemuan yang bermakna hanyalah terjadi pada penelitian ilmiah.

Sehubungan dengan kedua demensi diatas, Ausubel (dalam Hudoyo, 1988: 62) mengklasifikasikan empat kemungkinan type belajar, yaitu belajar dengan penemuan bermakna, belajar dengan ceramah yang bermakna, belajar penemuan yang tidak bermakna, dan belajar ceramah yang tidak bermakna.

Struktur kognitif didefinisikan sebagai struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah kedalam suatu unit konseptual. Beberapa syarat yang harus dipenuhi agar belajar menjadi bermakna yaitu:

1)      Pengaturan awal (Advance organizer) Pengaturan awal ini berisi konsep-konsep atau ide-ide yang diberikan kepada siswa jauh sebelum materi pelajaran yang sesungguhnya diberikan.

2)      Progressive differentiation Menurut Ausubel pengembangan konsep berlangsung paling baik bila dimulai dengan cara menjelaskan terlebih dahulu hal-hal yang umum terus sampai kepada  hal-hal yang khusus dan rinci disertai dengan pemberian contoh-contoh.

3)      Rekonsiliasi integrative Guru menjelaskan dan menunjukkan secara jelas perbedaan dan persamaan materi yang baru dengan materi yang telah dijelaskan terlebih dahulu yang telah dikuasai siswa.

4)   Konsolidasi (consolidation) Guru memberikan pemantapan atas materi pelajaran yang telah diberikan untuk memudahkan siswa memahami dan mempelajari materi selanjutnya.

Menurut Ausubel (dalam Dahar, 1988: 142), bahwa prasyarat belajar bermakna adalah sebagai berikut:

1)      Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial. Kebermaknaan materi tergantung pada dua factor berikut:

a.       Materi harus memiliki kebermaknaan logis, yaitu merupakan materi yang nonarbitrar dan substantive. Materi yang nonarbitrar adalah materi yang konsisten dengan yang telah diketahui, sedangkan materi yang substantive adalah materi yang dapat dinyatakan dalam berbagai cara tanpa mengubah artinya.

b.    Gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa. Dalam hal ini harus diperhatikan pengalaman anak-anak, tingkat perkembangan intelektual mereka, intelegensi dan usia

2)      Siswa yang akan belajar harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna. Dengan demikian siswa mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna. Jadi tujuan siswa merupakan faktor utama dalam belajar bermakna Sebagaimana disimpulkan oleh Rosser (dalam Dahar, 1988: 143) bahwa belajar bermakna dapat terjadi bila memenuhi tiga komponen yaitu materi pelajaran harus bermakna secara logis, siswa harus bertujuan untuk memesukkan materi itu kedalam struktur kognitifnya dan dalam struktur kognitif siswa harus terdapat unsur-unsur yang cocok untuk mengkaitkan atau menghubungkan materi baru secara nonarbitrar dan substantif. Jika salah satu komponen tidak ada,maka materi itu akan dipelajari secara hafalan

Inti teori Ausubel tentang belajar adalah belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna merupakan suatu proses untuk mengaitkan informasi baru dengan konsep konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Dalam menerapkan teori ausubel dalam pembelajaran, guru dianjurkan untuk mengetahui terlebih dahulu kondisi awal siswa. hal ini sesuai dengan pandangan bahwa ada satu faktor yang sangat mempengaruhi belajar, yaitu pengetahuan yang telah diterima siswa.

 

Referensi :

Dahar, RW. 1998. Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: