Mengenal Teori Belajar Bandura

  1.  Latar Belakang Tokoh

clip_image002[4]          Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925, di kota kecil Mundare bagian selatan Alberta, Kanada. Ia sekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah yang sederhana, namun dengan hasil rata-rata yang sangat memuaskan. Setelah selesai SMA, Ia bekerja pada perusahaan penggalian jalan raya Alaska Highway di Yukon. Kemudian Bandura menerima gelar sarjana muda di bidang psikologi dari University of British of Columbia tahun 1949. Kemudian ia masuk University of Iowa, tempat di mana ia meraih gelar Ph.D tahun 1952. Baru setelah itu Bandura menjadi sangat berpengaruh dalam tradisi behavioris dan teori pembelajaran. Di Iowa, ia bertemu dengan Virginia Varns, seorang instruktur sekolah perawat. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai dua orang puteri. Setelah lulus, ia meneruskan pendidikannya ke tingkat post-doktoral di Wichita Guidance Center di Wichita, Kansas.

Tahun 1953, ia mulai mengajar di Standford University. Di sini, ia kemudian bekerja sama dengan salah seorang anak didiknya, Richard Walters. Buku pertama hasil kerja sama mereka berjudul Adolescent Aggression terbit tahun 1959. Sayangnya, Walters mati muda karena kecelakaan sepeda motor. Pada tahun 1973, Bandura menjadi presiden APA dan menerima APA Award atas jasa-jasanya dalam Distinguished Scientific Contributions tahun 1980. Ia meneliti beberapa kasus, salah satunya ialah kenakalan remaja. Menurutnya, lingkungan memang membentuk perilaku dan perilaku membentuk lingkungan. Oleh Bandura, konsep ini disebut determinisme resiprokal yaitu proses yang mana dunia dan perilaku seseorang saling memengaruhi. Lanjutnya, ia melihat bahwa kepribadian merupakan hasil dari interaksi tiga hal yakni lingkungan, perilaku, dan proses psikologi seseorang. Proses psikologis ini berisi kemampuan untuk menyelaraskan berbagai citra (images) dalam pikiran dan bahasa.

Dalam teorinya, Bandura menekankan dua hal penting yang sangat mempengaruhi perilaku manusia yaitu pembelajaran observasional (modeling) yang lebih dikenal dengan teori pembelajaran sosial dan regulasi diri. Beberapa tahapan yang terjadi dalam proses modeling.

 

2.       Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory)

Teori Pembelajaran Sosial  atau disebut juga Teori Belajar dari Model relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya dan merupakan perluasan dari teori belajar perilaku (behavioristik).  Teori pembelajaran sosial ini dicetuskan oleh Albert Bandura pada tahun 1969. Selanjutnya dikembangkan menjadi Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) pada tahun  1986.

Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip- prinsip teori- teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada kesan dan isyarat- isyarat perubahan perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Jadi dalam teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan penjelasan-penjelasan reinforsemen eksternal dan penjelasan- penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial “ manusia “ itu tidak didorong oleh kekuatan- kekuatan dari dalam dan juga tidak dipengaruhi oleh stimulus-stimulus lingkungan.

 Teori belajar sosial menekankan bahwa lingkungan- lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan ; lingkungan- lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Inti dari pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.

Ada dua jenis pembelajaran melalui pengamatan. Pertama, Pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondisi yang dialami orang lain, contohnya : seorang pelajar melihat temannya dipuji dan ditegur oleh gurunya karena perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya. Kejadian ini merupakan contoh dari penguatan melalui pujian yang dialami orang lain. Kedua, pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan positif atau penguatan negative, saat mengamati itu sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan mengharapkan mendapat pujian atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yang dipelajari itu.

Seperti pendekatan teori pembelajaran terhadap kepribadian, teori pembelajaran sosial berdasarkan pada penjelasan yang diutarakan oleh Bandura bahwa sebagian besar daripada tingkah laku manusia adalah diperoleh dari dalam diri, dan prinsip pembelajaran sudah cukup untuk menjelaskan bagaimana tingkah laku berkembang. Akan tetapi, teori-teori sebelumnya kurang memberi perhatian pada konteks sosial dimana tingkah laku ini muncul dan kurang memperhatikan bahwa banyak peristiwa pembelajaran terjadi dengan perantaraan orang lain. Maksudnya, sewaktu melihat tingkah laku orang lain, individu akan belajar meniru tingkah laku tersebut atau dalam hal tertentu menjadikan orang lain sebagai model bagi dirinya.

Berikut ini adalah pembahasan tentang konsep-konsep utama dari teori belajar social:

1.      Pemodelan (Modelling)

Bandura memperhatikan bahwa penganut-penganut Skinner member penekanan pada efek-efek dari konsekuensi-konsekuensi pada perilaku dan tidak mengindahkan fenomena pemodelan yaitu meniru perilaku orang lain dan pengalaman Vicarious. Ia merasa bahwa sebagian besar belajar yang dialami manusia tidak dibentuk dari konsekuensi-konsekuensi melainkan manusia itu belajar dari suatu model. Yang disebut model sendiri adalah orang-orang yang perilakunya dipelajari atau ditiru orang lain. Peranan utama model tersebut adalah untuk memindahkan informasi ke dalam diri individu (pengamat). Peranan ini dapat dirinci menjadi tiga macam yaitu:

1)            Sebagai contoh untuk ditiru.

2)            Untuk memperkuat atau memperlemah perilaku yang telah ada.

3)            Untuk memindahkan pola-pola perilaku yang baru.

Selain itu, model-model yang ada di lingkungan senantiasa memberikan rangsangankepadaindividu yang membuat individu memberikan tindak balas apabila terjadi hubungan atau keterkaitan antara rangsangan dengan dirinya sendiri. Menurut Surya (dalam Laila, 2015:30) dalam kaitan dengan pembelajaran, ada tiga macam model yaitu:

1)        Live model (model hidup) Adalah model yang berasal dari kehidupan nyata, misalnya perilaku orang tua di rumah, perilaku guru, teman sebaya atau perilaku yang dilihat sehari-hari di lingkungan.Dalam kehidupan sehari-hariseseorang memperoleh informasi dari hubungan sosial ini.

2)         Symbolic model (model simbolik) Adalah model-model yang berasal dari sesuatu perumpamaan atau gambaran tingkah laku dalam pikiran. Misalnya, dari cerita dalam buku, radio, TV, film atau dari berbagaiperistiwa lainnya. Dalam masyarakat dewasa ini, media masa merupakan sumber model-model tingkah laku. Dari media masa seseorang memperoleh informasi tentang situasi sosial yang luas.

3)            Verbal description model (deskripsi verbal) Adalah model yang dinyatakandalam suatu uraian verbal (kata-kata) atau model yang bukan berupa tingkah laku tetapi berwujud instruksi-instruksi. Misalnya, petunjuk atau arahan untuk melakukan sesuatu seperti resep yang memberikan arahan bagaimana membuat suatu masakan.

Guru berperan sebagai model atau contoh bagi murid-muridnya. Sebagai model (contoh atau teladan) tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan murid-muridnya atau peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Dalam kaitan dengan pengajaran di dalam kelas, guru hendaknya merupakan tokoh perilaku bagi siswa-siswanya. Proses kognitif siswa hendaknya memberikan dukungan bagi proses pembelajaran, dan guru membantu siswa dalam mengembangkan perilaku pembelajaran. Kognitif siswa hendaknya memberikan dukungan bagi proses pembelajaran, dan guru membantu siswa dalam mengembangkan perilaku pembelajaran. Guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa, terutama yang berkenaan dengan perbedaanindividual, kesediaan, motivasi dan proses kognitifnya. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kecakapan siswa dalam pembelajaran untuk belajar, dan penyelesaian masalah dalam pengajaran. Proses pembelajaran hendaknya tidak terpisah dari penyelesaian masalah dalam pengajaran.

2. Fase Belajar

Terdapat empat fase belajar dari model. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan berikut:

imageGambar 2.1

Analisis Belajar Observasional

a.       Fase Perhatian

Fase pertama dalam belajar observasional ialah memberikan perhatian pada suatu model. Pada mumnya, para siswa memberikan perhatian pada model-model yang menarik, berhasil, menimbulkan minat, dan popular. Inilah sebabnya mengapa banyak siswa menir pakaian, tata rambut, dan sikap-sikap bintang film misalnya.

Dalam kelas, guru akan memperoleh perhatian dari para siswa dngan menyajikan isyarat-isyarat yang jelas dan menarik, misalnya dengan berkata: “Dengarkan baik-baik, materi yang kita bahas ini akan muncul pada ujian minggu depan!”

b.      Fase Retensi

Belajar obsevasional terjadi berdasarkan kontiguitas. Dua kejadian kontiguitas yang diperlukan ialah perhatian pada penampilan model dan penyajian simbolik dari penampilan itu dalam memori jangka panjang. Menurut Bandura (dalam Dahar, 1996:29):

“Observers who code modeled activities into either words, concise labels, or vivid imagery learn and retain behavior better than those who simply observe or are mentally preoccupied with other matters while watching”

Dari apa yang dikemukakan Bandura ini terlihat betapa pentingnya peranan kata-kata, nama-nama, atau bayangan yang kuat yang dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang dimodelkan dalam mempelajari dan mengingat perilaku.

Sebagai contoh, para mahasiswa calon guru yang mempersiapkan pelajaran mereka yang pertama. Dari guru pamong atau guru model, mahasiswa belajar bagaimana berdiri di depan kelas, bagaimana menyampaikan pelajaran pendahuluan, menuliskan konsep-konsep atau kata-kata baru di papan tulis, memberikan giliran pada siswa-siswa, memberikan rangkuman, dan lain sebagainya.  Sebelum mahasiswa itu menyampaikan pelajarannya, dalam pikirannya ia membayangkan persiapan yang telah ia buat. Pengulangan tertutup semacam ini, membantu mahasiswa mengingat unsur-unsur pokok dar pla perilaku yang harus dikuasai. Pengulangan tertutup ini menolong terbentuknya kesesuaian antara perilaku mahasiswa tersebut dan perilaku model.

c.       Fase Reproduksi

Dalam fase ini, bayangan (imagery) atau kode-kode simbolik verbal dalam memori membimbing penampilan yang sebenarnya dari perilaku yang baru diperoleh. Telah ditemukan bahwa derajat ketelitian yang tertinggi dalam belajar observasional terjadi bila tindakan terbuka mengkuti pengulangan secara mental (Mental Rehearsal).

Fase reproduksi mengizinkan model atau instruktur untuk melihat apakah komponen-komponen suatu urutan perilaku telah dikuasai oleh yang belajar. Adakalanya hanya sebagian dari suatu urutan perilaku yang diberi kode yang benar dan dimilki. Msalnya seorang guru mungkin mnemukan setelah memodelkan prosedur-prsedur untuk memecahkan persamaan kuadrat, bahwa beberapa siswa hanya dapat memecahkan sebagian dari persamaan itu. Mereka mungkin membutuhkan pertolongan dalam menguasai seluruh urutan untuk memecahkan  persamaan kuadrat itu. Kekurangan penampilan hanya dapat diketahui bila siswa diminta untuk menampilkan.

d.      Fase Motivasi

Fase terakhir dalam proses belajar observasional  adalah fase motivasi. Para siswa akan meniru suatu model , sebab mereka merasa bahwa dengan berbuat  demikian, maka akan meningkatkan kemungkinan untuk memperoleh reinforsement.

Dalam kelas, fase motivasi dari belajar observasional biasanya terdiri atas pujian atau angka untuk penyesuaian dengan model guru. Para siswa memperhatikan model itu, melakukan latihan, dan menampilkannya sebab mereka mengetahui inilah yang disukai guru.

2.      Belajar Vicarious

Sebagian besar dari belajar observasional termotivasi oleh harapan bahwa meniru model dengan baik akan menuju pada reinforsemen. Tetapi, ada orang yang belajar dengan melihat orang diberi reinforsemen atau dihukum waktu terlibat dalam perilaku-perilaku tertentu. Inilah yang disebut belajar Vicarious.

Guru-guru dalam kelas selalu menggunakan prinsip belajar vicarious. Bila seorang murid berklakuan tidak baik, maka gur memperhatkan anak-anak yang bekerja dengan baik, dan memuji mereka karena pekerjaan meeka yang baik itu. Anak yang nakal itu melihat bekerja memperoleh reinforsmen, karena itu ia pun kembali bekerja. Untuk lebih jelasnya, Uno (dalam Laila, 2015: 31) berpendapat bahwa belajar Vicarious dibagi menjadi:

a.       Vicarious Reinforcement (Reward)

Hasil riset menunjukkan bahwa dampak pemodelan menunjukkan bahwa dampak pemodelan yang mendapat penguatan berupa reward ternyata lebih efektif dari pada sekedar modeling saja tanpa suatu penghargaan apa pun. Efek dariVicarious Reinforcementini sangat memainkan peranan penting pada situasi-situasi di mana cukup sulit untuk menilai kualitas dari suatu perilaku. Walaupun demikian, hal ini tergantung pada seberapa besar pengamat menghargai penguatan tersebut. Perilaku yang melibatkan usaha keras cenderung akan ditiru apabila pengamat melihat sang model mendapatkan penguatan untuk memantapkan perilaku yang dicontohkan.

b.      Vicarious Punishment

Apabila para model melakukan tindakan yang berkonsekuensi negatif maka kecenderungan pengamat akan berkurang perhatiannya. Hal ini ditegaskan oleh Bandura bahwa: apabila pengamat melihat perilaku yang menghasilkan hukuman maka kecil kemungkinannya perilakutersebut ditiru dibandingkan jika mereka melihat perilaku yang mendapat penghargaan. Karena itu, para murid sebaiknya diajarkan mengenai larangan yang harus dipatuhi dengan cara menunjukkan konsekuensi negatif apabila larangan tersebut dilanggar. Pentinguntuk diperhatikan apabila ada tindakan terlarang dilanggar, sebaiknya tidak dibiarkan tanpa konsekuensi hukuman karena hal tersebut dapat menimbulkan disinhibition yang akan ditirunya dengan melakukan tindakan pelanggaran tersebut oleh siswa lain.

c.       Vicarious Motivation

Dalam pengamatan terhadap model, pengamat tidak hanya mendapat informasi dari perilaku yang diamati, tetapi juga dapat memotivasi mereka jika konsekuensi perilaku tersebut mempunyai nilai khusus yang berharga bagi diri pengamat. Jadi, suatu perilaku model yang diamati dan menghasilkan nilai yang berharga maka pengamat akan termotivasi untuk meniru perilaku tersebut. Dalam hal ini, Bandura memberikan keterangan bahwa di dalam kelas dengan memperhatikan seorang model yang melakukan usaha belajarkeras yang terus-menerus dan akhirnya mendapatkan hasil prestasi yang baik, maka akan memotivasi pada diri pengamat akan manfaat dari sebuah ketekunan dalam belajar.

d.      Vicarious Emotion

Banyak emosi yang didapat melalui pengamatan terhadap model. Pengamat dapat terangsang dan kemudian mengomunikasikan perasaan tersebut melalui suara, posisi tubuh atau kinesik, ekspresi raut wajah sebagai perilaku tambahan dari apa yang mereka katakana. Hal ini merupakan pengalaman langsung dari hasil pengamatan sehingga menimbulkan emosi yang sama seperti yang ditunjukkan oleh model.

e.       Atribut Model

Untuk menjadi model memerlukan konsekuensi yang dapat diterima oleh pengamat, hal ini menyangkut karakteristik atau atribut dari orang yang dapat dijadikan model. Makin mirip karakteristik seorang model dengan para pengamatnya, makin besar kemungkinan bahwa tindakannya akan memberikan hasil untuk ditiru atau dilakukan oleh pengamat. Akan tetapi, apabila model memiliki status, kompetensi, dan kekuasaan yang lebih tinggi dari pengamatakan memberikan hasil peniruan yang kurang. Mengapa ini tampak seperti suatu kontradiksi? Jawabannya adalah bahwa karakteristik seorang model perlu dipertimbangkan, karena hal ini akan menimbulkan pengaruh yang lebih besar jika perilaku tersebut ditiru. Dalam hal ini, nilai fungsional berdasarkan penampilan fisik dan kemampuan model.

3.      Pengaturan Sendiri (Self-Regulation)

Konsep penting lainnya dalam belajar observasional adalah pengaturan sendiri atau Self-Regulation. Bandura berhipotesis bahwa manusia mengamati perilakunya sendiri, mmpertimbangkan perilaku itu terhadap criteria yang disusunnya sendiri, dan kemudian member reinforsemen atau hukuman terhadap dirinya sendiri.

 

3     Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory)

Teori Kognitif Sosial merupakan pengembangan lebih lanjut dari Teori Belajar Sosial. Teori kognitif sosial (social cognitive theory) yang dikemukakan oleh   Albert Bandura menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif  serta  faktor  pelaku  memainkan  peran  penting  dalam  pembelajaran.  Faktor kognitif  berupa  ekspektasi/ penerimaan  siswa  untuk  meraih  keberhasilan,  faktor  sosial  mencakup pengamatan siswa terhadap  perilaku orangtuanya. Albert Bandura merupakan salah satu perancang teori  kognitif  sosial.  Menurut  Bandura  ketika  siswa  belajar  mereka  dapat merepresentasikan atau  mentrasformasi pengalaman mereka  secara  kognitif.  Bandura mengembangkan  model determinasi resipkoral yang terdiri dari tiga faktor utama yaitu perilaku,  person/kognitif dan lingkungan. Faktor ini bisa saling berinteraksi dalam proses pembelajaran.   Faktor   lingkungan   mempengaruhi   perilaku,   perilaku     mempengaruhi lingkungan, faktor person/kognitif mempengaruhi  perilaku. Faktor person Bandura tak punya kecenderungan kognitif terutama pembawaan personalitas dan temperamen. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi pemikiran dan kecerdasan. Untuk lebih jelasnya, akan diperlihatkan pada gambar di bawah ini:

clip_image009

Gambar 2.2

Model Determinasi Resiprokal dalam Pembelajaran dari Bandura

Berdasarkan gambar di atas, faktor kognitif, lingkungan, dan perilaku saling mempengaruhi satu sama lain. Kondisi lingkungan sekitar kita sangat berpengaruh terhadap perilaku kita. Lingkungan kiranya memberikan posisi yang besar dalam kehidupan sosial kita sehari hari.Lingkungan dapat pula membentuk kepribadian kita. Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi perilaku kita,dan perilaku pribadi kita akan menimbulkan reaksi dari orang lain.Begitu pula dengan lingkungan, keadaan lingkungan sekitar kita akan mempengaruhi perilaku kita.Keadaan lingkungan akan menimbulkan reaksi – reaksi tersendiri dari individu tersebut.Yang dapat memberikan stimulus terhadap individu untuk melakuka sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat , cermati , dalm lingkungan tersebut.

Kemudian reaksi – reaksi yang ditunjukkan oleh individu tersebut akan memberikan penilaian tersendiri terhadap dirinya sendiri, dan karakteristik dari individu tersebut akan memberikan penilaian tersendiri dari orang lain.

Dari keadaan lingkungan sekitar yang kita lihat dan reaksi – reaksi dari individu akan  memberikan pengaruh terhadap persepsi dan aksi kita akan stimulus yang diperlihatkan di dalam lingkungan tersebut. Persepsi timbul karena ada stimulus dari orang lain maupun dari lingkungan sekitar kita. Dengan kata lain, antara kognitif, lingkungan dan perilaku sangatlah bergantung satu sama lain, ketiga komponen tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Namun antar ketiga komponen itu saling memberikan pengaruh atau saling memberikan perannnya dalam terlaksananya teori pembelajaran sosial.

Berikut ini adalah contoh bagaimana model Bandura dalam kasus perilaku akademik murid di sekolah menengah.

Ø  Kognitif Mempengaruhi Perilaku

Siswa menyusun strategi kognitif untuk berpikir secara lebih mendalam dan logis tentang cara menyelesaikan suatu masalah. Sehingga strategi kognitif mempengaruhi akademiknya.

Ø  Perilaku Mempengaruhi Kognitif

Perilaku belajar siswa mengantarkan siswa tersebut untuk mendapat nilai baik sehingga menghasilkan ekspektasi positif tentang kemampuannya dan membuat dirinya lebih percaya diri (Kognitif).

Ø  Lingkungan Mempengaruhi Perilaku

Sekolah mengembangkan program percontohan keterampilan untuk membantu siswa dalam mengerjakan ujian secara lebih efektif. Hal ini jelas mempengaruhi siswa dalam bentuk perilaku.

Ø  Perilaku Mempengaruhi Lingkungan

Program keterampilan membuat perilaku akademik siswa meningkat, sehingga memacu sekolah untuk mengembangkan program tersebut.

Ø  Kognitif Mempengaruhi Lingkungan

Ekspektasi dan perencanaan dari kepala sekolah dan para guru, memungkinkan program sekolah terwujud.

Ø  Lingkungan Mempengaruhi Kognitif

Sekolah mendirikan pusat sumber daya dan tutoring agar siswa dapat meningkatkan keterampilan belajarnya. Hal ini akan meningkatkan keterampilan berpikir siswa.

 

4.        Bobo Doll Experiment

Eksperimen Bandura yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.

Albert Bandura seorang tokoh teori belajar sosial ini menyatakan bahwa proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan dengan menggunakan pendekatan “permodelan “. Beliau menjelaskan lagi bahwa aspek perhatian pelajar terhadap apa yang disampaikan atau dilakukan oleh guru dan aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum kepada pemahaman pelajar.

Eksperimen Pemodelan Bandura :

Kelompok A   : Sekelompok anak diminta memperhatikan sekumpulan orang dewasa memukul, menumbuk, menendang, dan menjerit kearah boneka Bobo.

Hasil              : Meniru apa yang dilakukan orang dewasa secara agresif

 

Kelompok B  : Sekelompok anak diminta memperhatikan sekumpulan orang dewasa berkasih sayang dengan boneka Bobo

Hasil               : Tidak menunjukkan tingkah laku seagresif layaknya kelompok A

Rumusan :

Tingkah laku anak – anak dipelajari melalui peniruan / permodelan adalah hasil dari penguatan.

Hasil Keseluruhan Eksperimen :

Kelompok A menunjukkan tingkah laku yang lebih agresif dari daripada kelompok B. dengan demikian, peniruan merupakan peranan penting dalam proses belajar.

 

 

Daftar Pustaka :

 

Borich, D. Gary. 2011. Effective Teaching Methods. The University of Texas at Austin

Dahar, W. Ratna. 1996. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga

Laila, Qumru’in. 2015. Jurnal: Pemikiran Pendidikan Moral Albert Bandura. STITNU Al Hikmah Mojokerto

Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Santrock, W. John. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana

https://id.wikipedia[dot]org/wiki/Albert_Bandura

Leave a Reply

%d bloggers like this: