Mengenal Teori Belajar Skinner

1.        Biografi Ringkas B.F. Skinner

clip_image002

         Burhuss Frederick Skinner lahir 20 Maret 1904, di kota kecil Pennsylvania Susquehanna. Anak pertama pasangan William Skinner dan Grace Mange Burrhus Skinner. Ayahnya adalah seorang pengacara, dan ibunya yang kuat dan cerdas sebagai ibu rumah tangga. Ia merefleksikan tahuntahun awal kehidupannya sebagai suatu masa dalam lingkungan yang stabil, di mana belajar sangat dihargai dan disiplin sangat kuat. Skinner mendapat gelar BA-nya dalam sastra bahasa inggris pada tahun 1926 dari Presbyterian-founded Humilton College. Setelah wisuda, ia menekuni dunia tulis menulis sebagai profesinya selama dua tahun. Ia memperoleh MA pada tahun 1930 dan Ph.D pada tahun 1931. Pada tahun 1945, dia menjadi kepala departemen psikologi Universitas Indiana. Kemudian 3 tahun kemudian, tahun 1948, dia diundang untuk datang lagi ke Universitas Harvard. Di Universitas tersebut dia menghabiskan sisa karirnya. Skinner adalah seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan, seperti melakukan berbagai penelitian, membimbing ratusan calon doktor, dan menulis berbagai buku. Meski tidak sukses sebagai penulis buku fiksi dan puisi, ia menjadi salah satu penulis psikologi terbaik. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Walden II. Pada tanggal 18 Agustus 1980, Skinner meninggal dunia karena penyakit Leukemia.

B.F Skinner (Bruss Frederic Skinner, 1904- 1990)adalah seorang Psikolog Amerika pada abad 20-an dan termasuk psikolog yang berpengaruh di dunia. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970). 2.    Pembelajaran menurut Aliran Behavioristik

Behavioristik berkaitan dengan aspek diamati dan diukur dari perilaku manusia. Aliran behavioristik menenkankan pada perubahan perilaku yang dihasilkan dari asosiasi stimulant-respon yang dilakukan oleh siswa. Oleh karena itu, perilaku diarahkan oleh rangsangan (Zhou et al, 2014: 4). 

Pembelajaran menurut aliran behavioristik adalah upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan lengkungan dengan tingkah laku siswa (Rifa’i, 2011: 205). Sehingga, pembelajaran menurut aliran behavioristik merupakan pembelajaran perilaku. Pembelajaran perilaku erat kaitannya dengan konsekuensi. Konsekuensi diperoleh setelah perilaku. Konsekunsi itu bisa menyenangkan dan bisa juga tidak menyenangkan. Konsekuensi terjadi setelah “target” dari perilaku terjadi, ketika penguatan positif maupun penguatan negatif diberikan (Zhou et al, 2014: 7). Penguatan positif akan memungkinkan meningkatkan respon. Berikut merupakan contoh penguatan positif dalam pembelajaran.

1)        Penguatan sosial; berupa senyuman, pujian.

2)        Penguatan aktivitas; pemberian mainan.

3)        Penguatan simbolik; uang, nilai.

Penguatan negatif adalah sesuatu yang apabila ditiadakan akan meningkatkan probabilitas respon (Zhou et al, 2014: 7). Berarti, penguatan negatif meruapakan hukuman (punishment). Hukuman (punishment) dapat digunakan sebagai alat pembelajaran, namun perlu berhati-hati (Rifa’i et al, 2011: 205). Sehingga, hukuman dapat dipikirkan sebagai alat pendidikan terakhir setelah anak melakukan kenakalan, kemalasan. Berikut merupakan perbedaan menganai penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment).

 

3.    Teori B. F. Skinner

3.1  Pokok Pemikiran B. F. Skinner

Seluruh sistem B. F. Skinner didasarkan pada operant conditioning (Boeree, 2006: 4).  Berikut meruapakan pokok pemikiran  B. F. Skinner mengenai teorinya.

1).      B.F. Skinner meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning.

2).    Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung tikus Skinner bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan.

3).      Tiga asumsi yang dimiliki Skinner dalam membangun teorinya:

a.         Behavior is lawful (perilaku memiliki hukum tertentu)

b.         Behavior can be predicted (perilaku dapat diramalkan)

c.         Behavior can be controlled (perilaku dapat dikontrol)

4). Functional analysis of behavior: analisis perilaku dalam hal hubungan sebab akibat, dimana penyebabnya itu sendiri (seperti stimuli, deprivation, dsb) merupakan sesuatu yang dapat dikontrol.

5).      Dua klasifikasi dasar dari perilaku menurut B.F Skinner: operants dan respondents.

3.2  Perintis dari Behaviorisme Ilmiah B. F. Skinner

Selama berabad-abad, pengamat perilaku manusia telah mengetahui bahwa manusia pada umumnya melakukan hal-hal yang mempunyai konsekuensi yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang membawa konsekuensi yang bersifat menghukum. Akan tetapi psikolog yang pertama kali mempelajari secara sistematis konsekuensi dari perilaku adalah Edward L. Thorndike, yang pada awalnya bekerja dengan binatang (Thorndike, 1898,1913) dan kemudiaan dengan manusia (Thorndike, 1913).

Thorndike mengobservasi bahwa pembelajaran pada umumnya terjadi karena adanya suatu efek yang mengikuti suatu respons, dan ia menyebut hasil observasinya sebagai hukum akibat (law of effect). Sebagaimana pertama kali dirumuskan oleh Thorndike, hukum dari efek ini mempunyai dua bagian. Bagian pertama menyatakan bahwa respons terhadap suatu stimulus yang diikuti langsung oleh pemuas cenderung akan “disimpan”;bagian kedua menyatakan bahwa respons terhadap suatu stimulus yang diikuti langsung oleh penganggu akan “dibuang”. Kemudian, Thorndike merevisi hukum ini dengan meminimalisasai signifikansi pengganggu. Ketika penghargan (reward) atau pemuas menguatkan hubungan antara suatu stimulus dengan suatu respon, hukuman (punishment) atau pengganggu biasanya tidak melemahkan hubungan tersebut. Artinya, menghukum suatu perilaku hanya menghambat perilaku tersebut; tetapi tidak “membuangnya”. Skinner (1954) menerima bahwa hukum akibat sangat krusial untuk mengontrol perilaku dan melihat pekerjaannnya adalah untuki memastikan bahwa suatu efek benar-benar terjadi dan efek tersebut terjadi dibawah suatu kondisi optimal untuk belajar. Ia juga setuju dengan Thorndike bahwa efek dari penghargaan lebih dapat diprediksi dari pada efek dari hukuman dalam membentuk suatu perilaku.

Seperti Thorndike dan Watson, Skinner bersikeras bahwa perilaku manusia harus di pelajari secara ilmiah. Aliran behaviorisme ilmiahnya berpendapat bahwa perilaku dapat dipelajari dengan baik tanpa referensi mengenai kebutuhan, insting, dan motif. Mengatribusikan motivasi pada perilaku manusia sama saja dengan mengatribusikan kemauan bebas kepada fenomena alam. Namun kebanyakan psikolog kepribadian berasumsi bahwa manusia termotivasi oleh dorongan internal dan pemahaman dari dorongan tersebut menjadi penting.

Walaupun Skinner yakin bahwa kondisi internal berada di luar domain ilmu pengetahuan, ia tidak menolak keberadaannya. Kondisi seperti rasa lapar, emosi, nilai-nilai, kepercayaan diri, kebutuhan agresif, keyakinan religious, dan kebencian memang ada, namun tidak menjelaskan suatu perilaku. Untuk menggunakan kondisi internal sebagai penjelasan, tidak hanya sia-sia, tetapi juga membatasi kemajuan behaviorisme ilmiah. Ilmuawan lainnya telah membuat kemajuan yang lebih besar karena telah lama meninggalkan praktik yang mengatribusikan motif, kebutuhan, atau kekuatan dari keinginan pada pergerakan dari organisme hidup dan benda-benda mati.

3.3 Pengkondisian

Skinner ( 1953 ) mengenali dua bentuk pengondisian, klasik dan operan. Melalui pengondisian klasik (yang disebut Skinner sebagai pengondisian responden ), suatu respons diperoleh dari sebuah organism dengan suatu stimulus yang spesifik dan dapat diidentifikasi. Dengan pengondisian operan ( yang disebut juga sebagai pengondisian Skinnerian), sebuah perilaku dibuat lebih mungkin untuk terjadi saat diberikan penguatan secara langsung.

Salah satu perbedaan antara pengondisian klasik dan operan adalah bahwa pada pengondisian klasik, perilaku diperoleh dari organism, sementara dalam pengondisian operan, perilaku terpancar. Respons yang diperoleh dikeluarkan dari organism sementara respons yang terpancar adalah yang muncul begitu saja. Oleh karena respons tidak terjadi di dalam suatu organism, sehingga tidak dapat dikeluarkan,Skinner lebih memilih istilah ”terpancar”. Respons yang terpancar tidak ada sebelumnya di dalam suatu organism, melainkan hanya muncul karena sejarah individual dari organisme tersebut mengenai penguatan (reinforcement).

a. Pengondisian Klasik

Dalam pengondisian klasik, suatu stimulus netral (conditioned) dipasangkan beberapa kali dengan suatu stimulus yang tidak dikondisikan (unconditioned) sampai mampu membawa sebuah respons yang sebelumnya tidak dikondisikan menjadi respons yang terkondisi. Perilaku reflex termasuk contoh palig sederhana. Sinar yang ditujukan ke mata menstimulasi pupil untuk menutup,makanan yang diletakkan di lidah membuat air liur keluar, dan lada di lubang hidung mengakibatkan reflex bersin. Dengan perilaku reflex, respons tidak dipelajari, tidak bersifat sukarela, dan umum., tidak hanya dalam satu spesies, namun pada spesies-spesies lainnya. 

Kunci penting dari eksperimen pengondisian klasik adalah dalam membuat pasangan dari stimulus yang dikondisikan dengan stimulus yang tidak dikondisikan, sampai kehadiran dari stimulus yang dikondisikan cukup untuk memperoleh stimulus yang tidak dikondisikan.

b. Pengondisian Operan

Penelitian operant conditioning dilakukan Skinner dengan objek tikus. Seekor tikus dimasukan ke dalam kotak Skinner (Skinner box); kotak kecil yang kedap, memisahkan tikus dari lingkungan normal dan memungkinkan peneliti mengontrol seluruh variasi lingkungan, mengontrol dan mencatat kejadian stimulus dan respon terjadi. Tikus lapar dihadapkan dengan stimulus dinding kotak yang salah satu sisinya ada bintik yang dapat mengeluarkan cahaya merah. Setiap kali tikus mematuk bintik itu, keluar makanan dari lubang dibawah bintik tersebut. Untuk membuat tikus mematuk cahaya merah, peneliti perlu membentuk tingkah laku itu karena mematuk cahaya bukan bagian dari tingkah laku normal tikus. Oleh karena itu, Skinner mulai dengan memperkuat tingkah laku yang semakin mendekati mematuk cahaya (pertama tikus dilatih makan dari lubang makanan, dan kemudian makanan hanya diberikan ke tikus kalau tikus berdiri di dekat bintik cahaya). Kemudian makanan hanya diberikan kalau tikus menatap kebintik cahaya dan akhirnya makanan akan segera diberikan kalau tikus mematuk cahayanya. Sejak itu tikus semakin sering mematuk cahaya karena patukan akan mendapat hadiah atau reinforcement makanan. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar berikut.

clip_image004

Gambar 2.3.1 Skinner Box

Kunci dari pengondisian operan adalah penguatan yang langsung dari sebuah respons. Kemudian, penguatan akan meningkatkan kemungkinan dari perilaku yang sama untuk terjadi lagi. Pengondisian ini di sebut dengan pengondisian operan karena organism beroperasi dalam suatu lingkungan untuk menghasilkan suatu efek yang spesifik. Pengondisian operan dapat mengubah frekuensi dari respons atau kemungkinan suatu respons akan terjadi. Penguatan tidak menyebabkan suatu perilaku, namun meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku tersebut akan diulang lagi.

1). Pembentukan

Pembentukan (shaping) adalah suatu prosedur ketika peneliti atau lingkungan memberikan suatu penghargaan atas perkiraan kasar dari perilaku tersebut, lalu perkiraan yang lebih dekat, dan terakhir, perilaku yang diinginkan tersebut. Melalui proses penguatan perkiraan berkala, peneliti atau lingkungan secara bertahap membentuk suatu kumpulan yang kompleks dan final dari perilaku (Skinner, 1953). Suatu respons terhadap lingkungan yang mirip tanpa adanya penguatan sebelumnya disebut generalisasi stimulus. Salah satu contoh generalisasi stimulus, yaitu pembelian tiket oleh manusia tidak melakukan generalisasi dari satu situasi kepada situasi yang lain, namun mereka bereaksi pada situasi baru dalam bentuk yang sama dengan cara mereka bereaksi sebelumnya, karena kedua situasi memiliki elemen yang identik,yaitu membeli tiket untuk salah satu konser rock mempunyai elemen-elemen yang identik dengan membeli tiket untuk konser rock yang berbeda.

2). Penguatan

Menurut Skinner (1978a), penguatan (reinforcement) memiliki dua efek: memperkuat perilaku dan memberikan penghargaan pada orang tersebut. Oleh karena itu, penguatan dan penghargaan tidak sama. Setiap perilaku diberi penguatan tidak selalu bersifat memberikan penghargaan ata menyenangkan bagi orang tersebut.

 Setiap perilaku yang meningkatkan kemungkinan bahwa suatu spesies atau seseorang untuk bertahan hidup, cenderung akan menguat. Makanan, seks, dan perhatian orang tua sangat penting untuk kemampuan bertahan hidup suatu spesies dan setiap perilaku yang menghasilkan kondisi ini akan diberi penguatan. Cedera, penyakit, dan iklim yang ekstrem bersifat merusak kemampuan bertahan hidup, dan setiap perilaku yang cenderung mereduksi atau menghindari kondisi ini juga akan diberi penguatan. Oleh karena itu, penguatan dapat dibagi menjadi yang menghasilkan kondisi lingkungan yang bermanfaat dan yang mereduksi atau menghindari kondisi yang merusak. Penguatan pertama disebut penguatan positif (positive reinforcement) dan yang kedua disebut penguatan negative (negative reinforcement).

a.  Penguatan Positif

Setiap stimulus yang saat dimasukkan dalam suatu situasi, meningkatkan kemungkinan bahwa suatu perilaku akan terjadi disebut penguat positif (positive reinforcement) (Skinner, 1953). Contoh umum dari penguat positif, yaitu makan, air, seks, uang, persetujuan social, dan kenyamanan fisik.

b. Penguatan Negatif

Menghilangkan suatu stimulus yang tidak disukai dari suatu situasi dari situasi dapat meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku sebelumnya akan terjadi. Menghilangkan hal tersebut dapat berakibat pada penguatan negatif (negative reinforcement) (Skinner, 1953). Reduksi atau menghindari suara-suara keras, hal-hal yang mengagetkan, dan rasa lapar yang menyakitkan akan menguatkan secara negative karena hal-hal tersebut menguatkan perilaku yang ada sebelumnya. Beberapa orang makan karena mereka menyukai suatu makanan, yang lainnya makan untuk menghilangkan rasa lapar yang menyakitkan. Untuk kelompok orang pertama, makanan adalah penguatan positif, sementara untuk kelompok orang yang kedua, menghilangkan rasa lapar adalah penguatan negative. Dalam dua kondisi, perilaku makan diperkuat karena konsekuensinya bersifat menguntungkan.

3). Hukuman

Penguatan negative menghilangkan, mereduksi, dan menhindari stimulus yang tidak menyenangkan, sementara hukuman (punishment) adalah pemberian stimulus yang tidak menyenangkan, seperti setrumen, atau menghilangkan stimulus yang menyenangkan, seperti memutuskan telepon seorang remaja. Penguaran negative menguatkan suatu respons, sementara hukuman tidak. Walaupun hukuman tidak menguatkan suatu respons, tetapi tidak secara langsung melemahkan respons tersebut. Skinner (1953) setuju dengan Thorndike bahwa efek dari hukuman lebih tidak dapat diprediksi dibandingkan efek dari penghargaan.

a. Efek dari hukuman

Efek dari hukuman bukanlah kebalikan dari efek penguatan. Saat factorfaktor dalam penguatan dapat dikontrol dengan ketat, perilaku dapat dengan akurat dibentuk dan diprediksikan. Akan tetapi, dengan hukuman, akurasi seperti itu mungkin tidak terjadi. Alas an dari perbedaan ini cukup sederhana. Hukuman biasanya diberikan untuk menahan seseorang bertindak dengan cara tertentu. Saat hal tersebut berhasil, orang akan berhenti bertindak dengan cara tersebut, namun mereka tetap harus melakukan sesuatu. Apa yang akan mereka lakukan tidak dapat diprediksikan secara akurat karena hukuman tidak memberitahu apa yang harus dilakukan, hukuman hanya menekan kecendurungan untuk bertindak dalam suatu cara yang tidak diinginkan. Pada akhirnya, salah satu efek dari hukuman adalah untuk menekan perilaku. Sebagai contoh, apabila seorang anak laki-laki menjahili adik perempuannya, orangtuanya dapat membuatnya berhenti melakukan hal tersebut dengan memukul pantatnya. Sayangnya, hukuman ini tidak akan meningkatkan disposisinya tergadap adiknya. Hukuman hanya menekan kejahilannya untuk sementara atau selama orang tuanya ada di sekitarnya.  

Dalam ilustrasi diatas, apabila rasa sakit karena dipukul cukup kuat, maka hal tersebut akan memunculkan respons yang tidak sebanding dengan perilaku menjahili adiknya. Di masa depan, apabila anak laki-laki tersebut berpikir untuk memperlakukan adiknya dengan tidak baik, pikiran memunculkan respons pengondisian klasik, seperti rasa takut, kecemasan, rasa bersalah. Emosi negative ini kemudian berfungsi untuk menahan perilaku yang tidak diinginkan untuk kembali terjadi. Sayangnya, hal ini tidak memberikan instruksi positif kepada anak tersebut.

Hasil ketiga dari hukuman adalah dalam penyebaran efeknya. Setiap stimulus yang diasosiasikan dengan hukuman mungkin akan ditekan. Dalam contoh diatas, anak laki-laki tersebut hanya dapat relajar untuk menghindari adik perempuannya, menjaga jarak dengan orangtuanya, atau mengembangkan perasaan negative terhadap pemukul atau tempat pemukulan terjadi. Sebagai hasilnya, perilaku anak laki-laki tersebut terhadap keluarganya menjadi maladaptive. Sementara perilaku tidak tepat ini bertujuan untuk menghindari hukuman di masa depan. Skinner mengakui mekanisme pertahanan diri klasik Freudian sebagai cara yang efektif dalam menghindari rasa sakit dan kecemasan yang mengiringinya. Orang yang dihukum mungkin akan berfantasi, memproyeksikan perasaan mereka kepada orang lain, merasionalisasi perilaku agresif, atau melakukan displacement terhadap orang lain.

4). Perbandingan Penguatan dan Hukuman

Hukuman mempunyai beberapa karakteristik yang sama dengan penguatan. Seperti adanya dua macam penguatan ( positif dan negative ), terdapat dua macam hukuman. Hukuman pertama membutuhkan pemberian stimulus yang tidak di sukai, sedangkan hukuman yang kedua melibatkan penghilangan suatu penguatan positif. Contoh dari hukuman yang pertama adalah rasa sakit yang dirasakan karena jatuh ditrotoar bersalju akibat berjalan terlalu cepat. Contoh hukuman yang kedua adalah denda yang sangat tinggi yang dikenakan pada seorang pengendara motor akibat mengendarai motor terlalu cepat. Contoh yang pertama merupakan hasil dari kondisi alami, sementara yang kedua mengikuti suatu intervensi dari manusia. Kedua tipe hukuman ini menguak karakteristik kedua yang sama antara hukuman dan penguatan. Keduanya dapat diperoleh dari konsekuensi alami ataupun diberikan oleh orang lain. Karakteristik yang terakhir, hukuman dan penguatan sama-sama merupakan cara untuk mengontrol perilaku, baik control yang sudah dirancang ataupun yang terjadi kebetulan.

 

3.4 Organisme Manusia

Menurut Sinner (1987) perilaku manusia dan kepribadian manusia dibentuk oleh tiga kekuatan : (1) seleksi alam, (2) praktik budaya, (3) sejarah seseorang atas penguatan yang diterimanya. Akan tetapi, pada akhirnya seleksi alam, sejak pengondisian operan adalah suatu proses yang berevolusi dan praktik budaya menjadi aplikasi spesialnya.

1). Seleksi Alam

Kepribadian manusia adalah hasil dari sejarah evolusi yang panjang. Sebagai individu, perilaku kita ditentukan oleh komposisi genetis dan terutama oleh sejarah pribadi kita atas penguatan yang diterima. Akan tetapi sebagai spesies kita dibentuk oleh faktor-faktor dari kemampuan bertahan hidup, Seleksi alam mempunyai peranan penting dalam kepribadian manusia.

Perilaku yang bersifat menguatkan cenderung akan diulangi yaitu yang tidak cenderung mengutkan akan dibuang. Serupa dengan hal tersebut, perilaku yang sepanjang sejarah telah bermanfaat untuk suatu spesies akan bertahan, sementara yang menguatkan hanya untuk orang-orang tertentu cenderung akan dibuang. Sebagai contoh, seleksi alam lebih condong pada seseorang yang pupil matanya akan berdilatasi dan berkontraks dengan perubahan percahayaan. Kemampuan superior yang membuat mereka dapat melihat di siang dan malam hari, membantu mereka menghindari bahaya yang mengancam hidup mereka dan untuk bertahan hidup sampai usia reproduksi mereka. Serupa dengan hal tersebut, bayi yang ke arah dimana pipinya dielus dengan lembut, dapat menghisap sehingga meningkatkan kemungkinannya untuk bertahan hidup dan kemungkinan untuk karateristik rooting ini diturunkan pada anak-anaknya.

Walaupun seleksi alam membantu beberapa perilaku manusia, namun seleksi alam memungkinkan hanya bertanggung jawab atas sebagian kecil dari tindakan manusia. Skinner (1989) menyatakan bahwa faktor-faktor dari penguatan, terutama yang telah membentuk budaya manusia, menjelaskan kebanyakan dari perilaku manusia.

2). Evolusi Budaya

Skinner lebih suka mengelaborasikan secara penuh pada kepentingan budaya dalam pembentukan perilaku manusia.  Seleksi bertanggung jawab atas praktik budaya yang telah bertahan sebagaimana seleksi memiliki peranan kunci dalam sejarah evolusi manusia dan juga faktor-faktor dari penguat.

Sisa-sia budaya, seperti juga dari seleksi alam tidak semuannya bersifat adaptif. Sebagai contoh, divisi pekerja yang muncul dari revolusi industry telah membantu masyarakat untuk memproduksi lebih banyak barang, namun hal tersebut mengarah pada pekerjaan yang tidak lagi menguatkan secara langsung. Contoh lain adalah peperangan, ketika dalam dunia pra-industrisasi memberikan manfaat bagi beberapa masyarakat, namun saat ini telah berubah menjadi suatu ancaman bagi keberadaan manusia.

3). Kondisi Internal

Walaupun menolak penjelasan dari perilaku yang ditemukan dalam konstruk hipotesis yan bersifat tidak dapat diobservasi, Skinner tidak menyangkal adanya kondisi internal seperti perasaan cinta, kecemasan atau ketakutan. Kondisi internal dapt dipelajari sama perilaku lainnya namun tentu saja observasi mereka terbatas.

Kondisi internal meliputi kesadaran diri, dorongan, dan emosi.

4). Perilaku Kompleks

Perilaku manusia dapat menjadi sangat kompleks, tetapi skinner  yakin bahwa bahkan perilaku yang paling abstrak dan kompleks terbentuk dari seleksi alam, evolusim budaya dan sejarah seseorang atas penguatan yang diterimanya. Sekali lagi, Skinner tidak menyangkal adanya proses mental tingkat tinggi seperti kognisi dan mengingat. Ia juga tidak melupakan usaha-usaha kompleks manusia, seperti kreativitas, perilaku yang tidak disadari, mimpi dan perilaku social.

          Kreativitas

Mengenai kreativitas, Skinner (1974) membandingkan perilaku kreatif dengan seleksi alam dalam teori evolusi. “Sebagai suatu sifat yang tidak disengaja, yang muncul dari mutasi, diseleksi atau kontribusinnya pada kemampuan bertahan hidup, maka variasi yang tidak disengaja dalam perilaku diseleksi berdasarkan faktor-faktor penguat mereka. Sama seperti bagaimana seleksi alam menjelaskan perbedaan diantara spesies tanpa bergantung pada suatu pikiran kreatif yang Maha Kuasa. Behaviorisme menjelaskan perilaku yang inovatif dan baru tanpa menghiraukan pikiran kreatif yang personal.

 Bagi Skinner kretifitas hanyalah suatu perilaku (overt maupun covert) yang random dan tidak disengaja yang mendapatkan suatu penghargaan tertentu. Fakta bahwa beberapa orang lebih kretif dari pada orang lain adalah karena adanya perbedaan genetis dan perbedaan pengalaman yang membentuk perilaku kreatif mereka.

          Perilaku yang Tidak Disadari

 Sebagai penganut behaviorisme radikal, Skinner tidak dapat menerima gagasan bahwa ada suatu gudang dari ide dan emosi yang tidak disadari. Akan tetapi, ia menerima perilaku yang tidak disadari. Malah, karena manusia jarang mengobservasi hubungan antara variable genetic, lingkungan dan perilaku mereka sendiri, hamper semua perilaku kita termotivasi secara tidak sadar. Dalam pembahasan yang terbatas, perilaku disebut tidak sadar saat seseorang tidak lagi memikirkan tentang hal tersebut, karena telah ditekan memalui hukum. Perilaku yang mempunyai konsekuensi yang tidak menyenangkan mempunyai kecederungan untuk dilupakan atau tidak lagi berada didalam pikiran. Seorang anak yang dihukum secara berulang dan dengan keras karena permainan yang bersifat seksual, mungkinakan menekan perilakunya sekaligus menahan pikiran atau ingatan mengenai aktivitas seksual tersebut telah terjadi. Penyangkalan seperti itu menghindari aspek yang tidak diinginkan, yang berkaitan dengan pkiran mengenai hukuman dan kemudian menjadi suatu penguat negative. Dengan perkataan lain, anak tersebut akan terdorong untuk tida berfikir mengenai suatu perilaku seksual.

          Perilaku Sosial

Kelompok tidak berperilaku, hanya individulah yang berperilaku. Individu-individu membentuk kelompok karena mendapatkan suatu manfaat dengan melakukan hal tersebut. Keanggotaan dari kelompok sosial tidak selalu memberikan penguatan, namun setidaknya tiga alasan, beberapa individu tetap menjadi anggota dari suatu kelompok. Pertama, individu tetap berada pada suatu kelompok yang menyiksa mereka karena beberapa anggota anggota kelompok menguatkan mereka. Kedua, beberapa individu terutama anak-anak mungkin tidk memunyai cara keluar dari keompok. Ketiga, pengutan mungkin terjadi dalan suatu jadwal yang tidak teratur.

5). Kontrol dari Perilaku Manusia

Perilaku seseorang dikontrol oleh faktor-faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut dapat ditegakkan oleh masyarakat, orang lain, atau diri sendiri; namun lingkungan, dan bukan kemauan bebas, yang bertanggung jawab atas semua perilaku.

a.   Kontrol Sosial

         Seseorang bertindak untuk membentuk suatu kelmpok sosial karena perilaku semacam ini cenderung menguatkan. Kemudian, kelompok akan memberikan suatu kontrol terhadap anggotanya dengan merumuskan hukum, peraturan atau kebiasaan secara tertulis ataupuntidak, yang mempuyai suatu kehadiran fisik diluar  kehidupan tersebut. Hukum negara, peraturan organisasi, dan kebiasaan budaya berada diatas cara-cara seseorang untuk melawan suatu kontrol dan berfungsi sebagai variabel yang mengontrol dengan sangat kuat dalam hidup anggotannya.

         Menurut Erich Fromm, setiap orang dikontrol oleh beragam tekanan dan teknik sosial, namun semannya dapat dikelompokkan menjadi empat kategori:(1) pengondisian operan, (2) menjelaskan faktor-faktor, (3) kekurangan dan kepuasan, (4) pengendalian fisik (Skinner, 1953). Masyarakat memberikan suatu kontrol atas anggotanya melalui empat metode prinsip dari pengondisian operan, yaitu pengutan positif, penguatan negatif, dan dua teknik hukuman (memberikan stimulus yang tidak menyenagkan atau menghilangkan stimulus yang menyenangkan). Teknik kedua dari kontrol sosial adalah untuk memprediksikan kepada seseorang mengenai faktor-faktor dari penguatan. Menjelaskan faktor-faktor melibatkan bahasa-biasanya verbal, untuk memberitahu orang-orang konsekuensi dari perilaku yang belum mereka kerjakan. Banyak contoh yang tersedia dari menjelaskan faktor-faktor, antara lain melalui ancaman atau janji. Cara yang lebih halus dalam kontrol sosial adalah dengan iklan, dirancang untuk memanipulasi manusia untuk membeli suatu produk tertentu. Tidak ada satupun dari contohcontoh ini yang mengusahakan suatu kontrol akan berhasil dengan sempurna,  tetapi masing-masing meningkatkan kemungkinan perilaku yang diinginkan akan muncul.

          Ketiga, perilaku dapat dikontrol dengan membuat sesorang kekurangan atau dengan memuaskan mereka dengan suatu pendorong. Sekali lagi, walaupun dengan kekurangan dan kepuasan adalah kondisi internal, tetapi kontrolnya tetap berasal dari lingkungan. Orang-orang yang kekurangan makanan lebih mungkin untuk makan; mereka yang puas memiliki kemungkinan yang lebih rendah walauoun tersedia makanan yang lezat.

          Terakhir, manusia dapat  dikontrol melalui pengendalian fisik, seperti menahan seorang anak dari suatu jurang yang dalam atau dengan memasukkan pelanggar hukum kepenjara. Pengendalian fisik berfungsi untuk melawan dampak pengondisian, dan pengendalian tersebut berakibat pada erilaku yang berkebalikan darri apa yang akan dilakukan oleh seseorang apabila ia tidak dikendalikan. Beberapa orang mungkin akan berkata bahwa pengendalian fisik adalah cara untuk menghalau kebebsan seseorang. Akan tetapi, Skinner (1971) yakin bahwa perilaku tidak mempunyai hubungan apa pu dengan kebebasab pribadi, tetapi dibentuk oleh faktor-faktor dari kemampuan bertahan hidup serta dampak dari penguatan adalah faktor-faktor dari lingkungan sosial. Oleh karena itu, suatu tindakan mengendalikan fisik eseorang tidak melakukan negasi yang berlebih pada kebebasan dibandingkan teknik kontrol lainnya, termasuk kontrol diri.

b.   Kontrol Diri

 Skinner mengatakan bahwa seperi seseorang dapat ,mengubah variabel yang ada dalam lingkunganorang lain, mereka juga dapat memanipulasi variabel dalm lingkunganmereka sendiri, dan melakukan beberapa bentuk kontrol diri.

 Skinner dan Margaret Vaughan (skinner&vaughan, 1983) telah mendiskusikan beberapa  teknik yang dapat digunakan oleh manusia untuk melakukan kontrol diri tanpa bergantung pilihan bebas. Pertama, mereka dapat menggunakan alat bantu seperti perkakas, mesin, dan sumber finansial merubah lingkungan mereka. Kedua, manusia dapat merubash lingkungannya sehingga meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku yang diinginkan. Ketiga, manusia dapat mengatur lingkungannya supaya dapat menghindari stimulus yang tidak menyenangkan, hanya dengan melakukan respon yang tepat. Keempat, manusia dapat menggunakan obat-obatan, terutama alkohol sebagai suatu cara melakukan kontrol diri. Kelima, manusia dapat melakukan hal lain untuk menghindari berperilaku dengan cara yang tidak diinginkan.

 

Daftar Pustaka :

Hamalik, Oemar. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Kurniawan, Deni. 2011. Pembelajaran Terpadu. Bandung : Pustaka Cendekia Utama.

 

Purwanto, M. Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan Bandung. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Rifa’i, Achmad & Chatarina Tri Anni. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pusat Pengembangan MKU & MKDK LP3 UNNES.

 

Stanic, Ivana. 2015. An Introduction to Operant Conditioning. Victoria: University of Victoria. 

 

Zhou, Molly et al. 2014. Educational Learning Theories. Tersedia di http://creativecommons[dot]org/licenses/by/4.0/ [diakses 11-9-2016].

Boeree, C. George. 2006. B. F. Skinner [1904 – 1990].  Tersedia di http://www.ship[dot]edu/%7Ecgboeree/perscontents.html [diakses 1-9-2016].

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: