Mengenal Teori Belajar Thorndike

A.      Sejarah Thorndike

Edward L. Thorndike (1874-1949) adalah seorang psikolog terkemuka di Amerika Serikat yang teori pembelajarannya-koneksionisme-dominan di negeri tersebut. Tidak seperti banyak psikolog terdahulu, ia tertarik pada pendidikan, terutama pembelajaran. Ia menerapkan sebuah pendekatan eksperimental ketika mengukur hasil-hasil yang dicapai oleh siswa. Pengaruhnya terhadap pendidikan ditandai dengan adanya Thorndike Award (Penghargaan Thorndike), penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Devisi Psikologi Pendidikan Asosiasi Psikologi Amerika kepada kontribusi-kontribusi besar terhadap psikologi pendidikan. (Schunk, D.H, 2012: 101)

B.       Definisi Belajar Menurut Thorndike

Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Thorndike tahun 1913. Terjadi hubungan (koneksionisme) antara stimulus-respon pada panca indera dengan kecenderungan untuk bertindak. Teori ini juga dinamai teori stimulus-respon. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respon sebanyak–banyaknya. (Susanto, B, 2010: 76).

C.      Eksperimen Thorndike

Thorndike mulai mempelajari pembelajaran dengan serangkaian eksperimen yang dilakukannya terhadap hewan. Dalam sebuah situasi eksperimen tipikal, seekor kucing ditempatkan dalam sebuah kandang. Kucing dapat membuka sebuah lubang keluar dengan mendorong sebuah tongkat atau menarik sebuah rantai. Setelah melakukan serangkaian respon acak, kucing pada akhirnya dapat keluar dengan membuat respon yang dapat membuka lubang keluar tersebut. Setelah itu, kucing ditaruh lagi di dalam kandang. Dari hasil mencoba-coba, kucing tersebut mencapai tujuannya (keluar kandang) dengan lebih cepat dan membuat lebih sedikit kesalahan sebelum akhirnya merespon dengan benar. Dari eksperimen tersebut dapat disimpulkan bahwa 1) belajar dapat terjadi dengan dibentuknya hubungan, atau ikatan, atau asosiasi,  ataupun koneksi neural yang kuat antara stimulus dan respons. 2) untuk dicapainya hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respon yang tepat, serta melalui usaha – usaha atau percobaan (trials) dan kegagalan (error) terlebih dahulu. Dengan ini Thorndike mengutarakan bila bentuk paling dasar dari belajar  adalah trial dan error learning atau selecting dan connecting learning (dengan ini teori belajar Thorndike disebut teori koneksionisme). (Schunk, D.H, 2012: 101)

D.      Hukum – Hukum Teori Thorndike

Thorndike (Siswanto, 2008: 138-139) mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:

1.    Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon dilatih atau digunakan, maka asosiasi tersebut akan semakin kuat;

2.   Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat.

Sedangkan Thorndike (Schunk, D.H, 2012: 102) menambahkan hukum lainnya yakni hukum kesiapan, maksud dari hukum kesiapan disini terdapat empat rumus yang digunakan sebagai berikut :

a)   Bila seseorang sudah siap melakukan suatu tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut memberi kepuasan baginya sehingga tidak akan melakukan tingkah laku lain.

b)    Bila seseorang sudah siap melakukan sesuatu tingkah  laku, tetapi tidak dilaksanakan tingkah laku tersebut, maka akan menimbulkan kekecewaan baginya, sehingga menyebabkan dilakukanya tingkah laku lain untuk mengurangi kekecewaanya.

c)    Bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah laku tetapi dia harus melakukanya, maka akan menimbulkan ketidakpuasan, sehingga dilakukan tingkah laku lain untuk menghalangi terlaksananya tingkah laku tersebut.

d)    Bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah laku dan tidak dilakukanya tingkah laku tersebut, maka akan menimbulkan kepuasan.

E.     Revisi Teori Thorndike

Eksperimen – eksperimen yang dilakukan oleh Thorndike banyak mengalami perkembangan sehingga timbulah revisi – revisi pada teorinya (Schunk, D.H, 2012: 105), antara lain  :

1.    Hukum latihan ditinggalkan, karena ditemukan bila pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus dengan respons, demikian pula tanpa ulangan belum tentu melemahkan hubungan stimulus – respons.

2.       Hukum akibat direvisi, karena dalam penelitianya lebih lanjut ditemukan bahwa hanya sebagian saja dari hukum ini yang benar. Dengan ini maka untuk hukum akibat dijelaskan, bila hadiah akan meningkatkan hubungan stimulus – respons, tetapi hukuman (punisment) tidak mengakibatkan efek apa – apa. Dengan revisi ini berarti Thorndike tidak menghendaki adannya hukuman dalam belajar.

Daftar Pustaka

Schunk, D.H. 2012. Learning Theoris An Educational Perspective. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Siswanto. 2008. Implementasi Berbagai Teori Belajar Dalam Pembelajaran Akuntansi, Jurnal Ekonomi & Pendidikan, vol (5), 136-144.

 

Susanto, B, Dwijanto, dan Siskandar. Celmi Media Pembelajaran Berbantuan Telephone Celluler Untuk Meningkatkan Kompetensi Penyolderan Elektronika, Innovative Journal of Curriculum and Educational Technology, vol (1), 75-81.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: