Mengenal Teori Gestalt

A.    Tokoh teori Gestalt

1.    Max Wertheimer (1880-1943)

Max Wertheimer adalah tokoh tertua dari tiga serangkai pendiri aliran psikologi Gestalt. Wertheimer dilahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880. Ia mendapat gelar Ph.D nya di bawah bimbingan Oswald Kulpe. Antara tahun 1910-1916, ia bekerja di Universitas Frankfurt di mana ia bertemu dengan rekan-rekan pendiri aliran Gestalt yaitu, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka.  Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Konsep pentingnya : Phi phenomenon, yaitu bergeraknya objek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan alam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi. Weirthmeir menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima.

Proses ini terjadi di otak dan  sama sekali bukan proses fisik tetapi proses mental sehingga diambil kesimpulan ia menentang pendapat Wundt. Wertheimer dianggap sebagai pendiri teori Gestalt setelah dia melakukan eksperimen dengan menggunakan alat yang bernama stroboskop, yaitu alat yang berbentuk kotak dan diberi suatu alat untuk dapat melihat ke dalam kotak itu. Di dalam kotak terdapat dua buah garis yang satu melintang dan yang satu tegak. Kedua gambar tersebut diperlihatkan secara bergantian, dimulai dari garis yang melintang kemudian garis yang tegak, dan diperlihatkan secara terus menerus. Kesan yang muncul adalah garis tersebut bergerak dari tegak ke melintang. Gerakan ini merupakan gerakan yang semu karena sesungguhnya garis tersebut tidak bergerak melainkan dimunculkan secara bergantian. Pada tahun 1923, Wertheimer mengemukakan hukum-hukum Gestalt dalam bukunya yang berjudul “Investigation of Gestalt Theory”. Hukum-hukum itu antara lain :

a.    Hukum Kedekatan (Law of Proximity)

b.    Hukum Ketertutupan ( Law of Closure)

c.    Hukum Kesamaan (Law of Equivalence)

2.      Kurt Koffka (1886-1941)

Koffka lahir di Berlin tanggal 18 Maret 1886. Kariernya dalam psikologi dimulai sejak dia diberi gelar doktor oleh Universitas Berlin pada tahun 1908. Pada tahun 1910, ia bertemu dengan Wertheimer dan Kohler, bersama kedua orang ini Koffka mendirikan aliran psikologi Gestalt di Berlin. Sumbangan Koffka kepada psikologi adalah penyajian yang sistematis dan pengamalan dari prinsip-prinsip Gestalt dalam rangkaian gejala psikologi, mulai persepsi, belajar, mengingat, sampai kepada psikologi belajar dan psikologi sosial. Teori Koffka tentang belajar didasarkan pada anggapan bahwa belajar dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip psikologi Gestalt. 

Teori Koffka tentang belajar antara lain:

a.       Jejak ingatan (memory traces), adalah  suatu pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul kembali kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.

b.      Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan. Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan menyebabkan terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan.

c.       Latihan yang terus menerus akan memperkuat jejak ingatan.

3.      Wolfgang Kohler (1887-1967)

Kohler lahir di Reval, Estonia pada tanggal 21 Januari 1887. Kohler memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di Berlin. Ia kemudian pergi ke Frankfurt. Saat bertugas sebagai asisten dari F. Schumman, ia bertemu dengan Wartheimer dan Koffka. Kohler berkarier mulai tahun 1913-1920, ia bekerja sebagai Direktur stasiun “Anthrophoid” dari Akademi Ilmu-Ilmu Persia di Teneriffe, di mana pernah melakukan penyelidikannya terhadap inteligensi kera. Hasil kajiannya ditulis dalam buku betajuk The Mentality of Apes (1925).

Eksperimennya  adalah : seekor simpanse diletakkan di dalam sangkar. Pisang digantung di atas sangkar. Di dalam sangkar terdapat beberapa kotak berlainan jenis. Mula-mula hewan itu melompat-lompat untuk mendapatkan pisang itu tetapi tidak berhasil. Karena  usaha-usaha itu tidak membawa hasil, simpanse itu berhenti sejenak, seolah-olah memikir cara untuk mendapatkan pisang itu. Tiba-tiba hewan itu dapat sesuatu ide dan kemudian menyusun kotak-kotak yang tersedia untuk dijadikan tangga dan memanjatnya untuk mencapai pisang itu. Menurut Kohler apabila organisme dihadapkan pada suatu masalah atau problem, maka akan terjadi ketidakseimbangan kognitif, dan ini akan berlangsung sampai masalah tersebut terpecahkan. Karena itu menurut Gestalt apabila terdapat ketidakseimbangan kognitif, hal ini akan mendorong organisme menuju ke arah keseimbangan. Dalam eksperimennya Kohler sampai pada kesimpulan bahwa organisme dalam hal ini simpanse, dalam memperoleh pemecahan masalahnya diperoleh dengan pengertian atau dengan insight. 

4.  Kurt Lewin (1890-1947)

Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology oleh Kurt Lewin. Lewin lahir di Jerman, lulus Ph.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi thn 1914. banyak terlibat dengan pemikir Gestalt, yaitu Wertheimer dan Kohler dan mengambil

konsep psychological field juga dari Gestalt. Pada saat Hitler berkuasa Lewin meninggalkan Jerman dan melanjutkan karirnya di Amerika Serikat. Ia menjadi professor di Cornell University dan menjadi Director of the Research Center for Group Dynamics di Massacusetts Institute of Technology (MIT) hingga akhir hayatnya di usia 56 tahun.

Mula-mula Lewin tertarik pada paham Gestalt, tetapi kemudian ia mengkritik teori Gestalt karena dianggapnya tidak adekuat. Lewin kurang setuju dengan pendekatan Aristotelian yang mementingkan struktur dan isi gejala kejiwaan. Ia lebih cenderung kearah pendekatan yang Galilean, yaitu yang mementingkan fungsi kejiwaan. Konsep utama Lewin adalah Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian yang memiliki batas-batas. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individumendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), maka terjadi ketegangan (tension).

Salah suatu teori Lewin yang bersifat praktis adalah teori tentang konflik. Akibat adanya vector-vector yang saling bertentangan dan tarik menarik, maka seseorang dalam suatu lapangan psikologis tertentu dapat mengalami konflik (pertentangan batin) yang jika tidak segera diselesaikan dapat mengakibatkan frustasi dan ketidakseimbangan. Berdarkan kepada vector yang saling bertentangan itu. Lewin membagi konflik dalam 3 jenis :

a.     Konflik mendekat-mendekat (Approach-Approach Conflict)

Konflik ini terjadi jika seseorang menghadapi dua obyek yang sama-sama bernilai positif.

b.      Konflik menjauh-menjauh (Avoidance-Avoidance Conflict)

Konflik ini terjadi kalau seseorang berhadapan dengan dua obyek yang sama-sama mempunyai nilai negative tetapi ia tidak bisa menghindari kedua obyek sekaligus.

c.       Konflik mendekat-menjauh (Approach-Avoidance Conflict)

Konflik ini terjadi jika ada satu obyek yang mempunyai nilai positif dan nilai negatif sekaligus.

 

B.     Pengertian Teori Gestalt

Gestalt adalah sebuah pandangan atau persfektif yang menekankan bahwa kesadaran manusia tidak dapat dipecah-pecah ke dalam beberapa bagian. Menurut ketiga tokoh teori ini manusia bukanlah sekedar mahkluk yang hanya beraksi jika ada stimulus yang memengaruhinya. Tetapi lebih dari itu, manusia adalah mahkluk individu yang utuh antara rohani dan jasmaninya. Dengan demikian, pada saat manusia bereaksi dengan lingkungannya, manusia tidak sekedar merespon tetapi juga melibatkan unsur subjektivitasnya yang antara masing-masing individu bisa berlainan.

Insight was acknowledged by Gestalt psychologists as being vital to independentlearning. The essence of Gestalt psychology has always been that the mind (and notnecessarily just in humans) attempts to interpret incoming sensations and experiencesas an organized whole and not as a collection of separate units of data. If the under-lying structure is immediately perceived in a meaningful way the learner is betterable to proceed to the solution of the problem. (Orton 2004 : 77)

Pada situasi belajar, keterlibatan seseorang secara langsung dalam situasi belajar tersebut akan menghasilkan pemahaman yang dapat membantu individu tersesbut memecahkan masalah. Dengan kata lain, teori Gestalt menyatakan bahwa yang paling penting dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari oleh individu tersebut. Psikologi Gestalt memandang bahwa belajar terjadi jika diperoleh insight (pemahaman). Insight timbul secara tiba-tiba jika individu telah dapat melihat hubungan antara unsur-unsur dalam situasi problemik. Insight adalah semacam reorganisasi pengalaman yang terjadi secara tiba-iba, seperti ketika seseorang menemukan ide baru atau menemukan pemecahan masalah. (Gagne, 1970:14)

Para tokoh Gestalt menyatakan bahwa sebuah persepsi akan mempunyai makna bila dilihat sebagai keseluruhan.

Gambar 1

image

Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.

Psikologi Gestalt berpendapat bahwa, pengamatan adalah bersifat totalitas, kesan

pertama pengamatan adalah totalitas atau keseluruhan, bagian-bagian barulah muncul kemudian secara analitis. Gestalt dalam bahasa jerman berarti whole configuration atau bentuk yang utuh, pola, kesatuan, dan keseluruhan . artinya gestalt adalah keseluruhan lebih berarti dari bagian-bagian.  Dalam  belajar siswa harus mampu menangkap makna dari hubungan antara bagian yang satu dengan yang lainnya. Penangkapan makna hubungan inilah yang disebut memahami, mengerti atau “insight”. Menurut pandangan Gestalt, semua kegiatan belajar menggunakan “insight” atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Menurut psikologi Gestalt tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar, adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada hukuman dan ganjaran.

 

C.    POKOK-POKOK TEORI BELAJAR MENURUT ALIRAN GESTALT

1.    Pandangan Gestalt Tentang Belajar dan The Memory Trace (Kesan Ingatan)

Menurut teori Gestalt, belajar adalah berkenaan dengan keseluruhan individu dan timbul dari interaksinya yang matang dengan lingkungannya. Melalui interaksi ini, kemudian tersusunlah bentuk-bentuk persepsi, imajinasi dan pandangan baru. Kesemuanya, secara bersama-sama membentuk pemahaman atau wawasan (Insight), yang bekerja selama individu melakukan pemecahan masalah. Walaupun demikian pemahaman (insight) itu barulah berfungsi kalau ada persepsi/tanggapan terhadap masalahnya-memahami kesulitan, unsur-unsur dan tujuannya. Sementara itu, dalam belajar menurut Gestaltis prinsipnya berkaitan dengan proses berfikir (proses problem solving) dan persepsi. Dalam hal ini terdapat empat prinsip yang dikembangkan oleh Wertheimer dan kemudian diaplikasikan Kohler mengenai berfikir dan persepsi. Karena Gestaltis punya perhatian dengan aspek-aspek molar dalam belajar dan prilaku sebagaimana stimuli dan respons, keterangan mereka tentang belajar dan memori lebih banyak bersifat global dan tidak spesifik seperti halnya keterangan dari behaviorist. Secara detail, proses belajar dalam pandangan Gestalt ini bisa kita temukan di dalam bukunya koffka, Principles of Gestalt Psychology  (1935).

Persepsi adalah kemampuan manusia untuk mengenal dan untuk memahami apa yang tidak diketahuinya. Penerimaan sesuatu berarti bahwa manusia dapat mengingat pengalaman-pengalaman, objek atau kejadian masa lalu. Karena itu persepsi memerlukan proses lebih banyak dari sekedar kemampuan melakukan reaksi terhadap sesuatu, yaitu pemrosesan yang sungguh-sungguh untuk mengintegrasikan sumber-sumber informasi ke dalam gambaran tunggal. Dengan demikian, kesadaran manusia bukan untuk merespon terhadap persoalan (objek) di dalam lingkungan dalam dasar item per item.Akan tetapi melihat segala sesuatu dalam satu pandangan yang utuh.

Seperti di contohkan dalam gambar berikut : Ada gambar konfigurasi titik-titik yang diadopsi dari Resnick dan Ford (1981:130).

Gambar 2

clip_image009

Pada setiap gambar diatas terdapat bundaran kosong yang menunjukkan posisi yang berbeda sesuai dengan konteks (organisasi perseptual). Dari gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa menurut pandangan gestatltist seseorang yang memperhatikan konfigurasi titik (bulatan) yang terdapat pada setiap gambar (a) sampai (d) tidak hanya sebagai kumpulan titik yang terpisah-pisah, tetapi titik itu terorganisir berdasarkan prinsip tertentu. Dengan demikian orang akan memahami setiap gambar itu sebagai kumpulan titik yang secara keseluruhan membentuk. (a) layang-layang (diamond), (b) segi empat, (c) segitiga, (d) segi delapan.

Jadi menurut pandangan psikologi gestalt  dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami. Persoalan umum pandangan Gestalt  diekspresikan dalam statemen bahwa hukum-hukum atau dalil-dalil organisasi menerapkan persepsi dan belajar secara sama-sama. Tetapi ada problem khusus di dalam belajar dimana gestatltis menguraikan gagasan-gagasannya. Mereka paling mudah di dalam mendiskusikan memori manusia daripada eksperimen kondisioning pada binatang, sehingga hampir semua ilustrasi yang mengikutinya, berkaitan dengan memori manusia.

Problem utamanya adalah bagaimana untuk menghadirkan memori yaitu bagaimana melakukan konseptualisasi pengalaman masa lalu kedalam masa kini. Hal ini diurai dalam sebuah teori yang disebut teori bekas. Dalam teori bekas, menyatakan bahwa konsepsi Gestalt terhadap memori adalah percaya bahwa persepsi menempel di dalam bekas memori yang saling berhubungan. Gestatltis menyatakan bahwa proses neural aktif selama persepsi dapat berlangsung terus di dalam bentuk ”yang lembut” sebagai sebuah bekas. Jadi informasi disimpan dalam bentuk yang sama, oleh neural yang sama, sebagaimana dalam persepsi orisinal. Kohler menggambarkan persoalan ini sebagai berikut:

Kejadian-kejadian neural cenderung untuk membentuk secara halus kondisi jaringan dimana mereka ingat. Perubahan seperti itu akan menyerupai banyak proses dengan mana mereka memproduksi pola mereka dan berkenaan dengan milik yang lain. Memanggil kembali atau mengingat kembali melibatkan pengaktifan kembali bekas  memori yang ada. Sebetulnya, ini adalah pembangkitan proses perceptual yang  sama, yaitu yang berhubungan dengan persepsi yang original. Bekas terus aktif sebagai proses aktif di dalam sistem syaraf, tetapi juga intensitas yang cukup lambat untuk masuk kesadaran.  Pada umumnya pandangan Gestaltis, yaitu bahwa hasil-hasil belajar ada di dalam formasi bekas memori. Sifat dasar yang pasti dari bekas itu dibiarkan tidak spesifik, dan sejumlah karakteristik mereka adalah mendetail. Karakteristik paling penting dari apa yang telah dipelajari, seperti perceptual, cenderung untuk mencapai kemungkinan struktur yang paling baik dengan memperbincangkan perihal organisasi perceptual.

Wulf (1983) mendiskripsikan kecenderungan organisasional dari memori dengan memberi nama penyamarataan  (leveling), Penajaman (Sharpening),dan normalisasi (Normalizing). Penyamarataan  (leveling)  adalah  kecenderungan menuju simatri atau menuju pendangan yang simpel dari kepelikan pola perseptual. Koffka mengasumsikan bahwa proses levelling juga dapat diterapkan pada persoalan kognitif. Sebagai contoh, kita mengingat perasaan perjalanan di kereta api, seseorang bisa mengingat impresi yang menyamaratakan gerakan maju (kereta api) dan wilayah pedalaman yang meluas dengan tanpa pengingatan sensasi dari goyangan (kereta api) ke sisi yang satu dan sisi yang lain.

Penajaman (Sharpening) adalah tindakan penekanan pada ketiadaan perbedaan pola. Ini kelihatan pada satu dari karakteristik memori manusia bahwa kualitasnya paling jelas memberikan identitas objek yang cenderung untuk dibesar-besarkan di dalam reproduksi objek itu. Normalisasi (normalizing) terjadi ketika objek yang direproduksi dimodifikasi agar sesuai dengan memori sebelumnya. Modifikasi ini biasanya cenderung menuju pengingatan kembali objek yang lebih banyak seperti apa objek itu muncul.

Reproduksi berikutnya dari objek stimulus yang sama melebihi waktu sebelum menjadi makin besarseperti sesuatu yang umum (dan sebab itu sesuatu itu menjadi ”normal”). Disisi lain, para gestaltis memberikan perhatian yang agak terdistorsi dalam perlakuan konvensional terhadap belajar, sehingga problem khusus yang ditekankan adalah bukan seleksi secara natural bentuk problem dari sudut pandang mereka. 

Beberapa problem yang menjadi perhatian Gestalt antara lain sebagai berikut :

a.       Kecakapan (Capacity) 

Karena belajar memerlukan pembedaan dan restrukturisasi persoalan, kondisi yang lebih tinggi dari belajar sangat banyak bergantung pada kecakapan alamiah untuk memberi reaksi dalam kebiasaan itu. Dengan meningkatkan kecakapan untuk organisasi perceptual atau kemampuan untuk ”memahami” problem-problem mengarahkan untuk meningkatkan kemampuan belajar.

b.      Praktek (Practice)

Memori kita adalah bekas yang dinyatakan (secara positif tanpa bukti) dari persepsi, asosiasi sebuah produk organisasi perceptual. Hukum  perceptual juga menentukan hubungan elemen-elemen di dalam memori. Karena itu, pengulangan pengalaman akan membangun secara kumulatif pada pengalaman-pengalaman yang lebih dulu hanya jika kejadian yang kedua dianggap sebagai sesuatu keadaan pemunculan dari pengalaman terdahulu.

c.       Motivasi (Motivation)

Hukum empiris dari akibat, mengenai peran reward dan hukuman, diterima oleh psikologi Gestalt, tetapi mereka berbeda dari Thorndike di dalam memberi interpretasi. Mereka percaya bahwa akibat yang datang kemudian tidak terjadi ”secara otomatis dan tanpa di sadari” untuk memperkuattindakan sebelumnya. Agaknya, akibat dipahami sebagai kepunyaan tindakan sebelumnya-posisi yang juga ditekankan oleh Thorndike. Motivasi dipandang sebagai tempat penempatan organisme ke dalam situasi problem: rewards dan punishment memainkan peran untuk memperkuat atau tidak memperkuat solusi terhadap problem yang diusahakan.

d.      Pemahaman (Understanding)

Pemahaman hubungan, kesadaran hubungan antara bagian-bagian dan keseluruhan, berhubungan dengan konsekuensi, ditekankan oleh para penulis Gestalt. Problem harus diselesaikan dengan pantas, dari sudut pandang bangunannya, secara organisatoris daripada mekanis, secara bodoh atau dengan melarikan diri dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya. Belajar yang penuh wawasan (pengetahuan) adalah tugas belajar sekarang yang lebih cocok dari pada  trial ang error.

e.       Transfer (Transfer)

Konsep Gestalt paling suka transfer perubahan. Pola hubungan dipahami di situasi yang bisa diterapkan pada situasi yang lain. Satu keuntungan dari belajar dengan pemahaman itu lebih baik daripada dengan proses penghafalan tanpa berfikir. Sebab, pemahaman dapat merubah jarak situasi yang lebih dalam, dan  lebih sering menyebabkan aplikasi yang salah dari belajar yang sudah-sudah.

f.        Pelupaan (forgetting)

Pelupaan dihubungkan dengan bagian perubahan di dalam bekas. Bekas bisa tidak kelihatan melalui pengurangan secara gradual (kemungkinan susah untuk membuktikan atau tidak), melalui perusakan karena sebagian kacau balau, bidang yang terstruktur sakit, atau karena asimilasi pada bekas atau proses baru.    Terkait dengan beberapa komponen yang menjadi perhatian Gestalt seperti diatas, maka berkaitan dengan proses belajar, tugas seorang guru secara essensial adalah untuk membantu subjek didik untuk melihat hubungan signifikan dan untuk memanag instruksi sehingga ia mampu mengatur pengalaman-pengalamannya, menunjukkan gambar-gambar, meletakkan kata-kata pada papan tulis, mempresentasikan pelajaran yang dibaca dan banyak aktivitas pengajaran lainnya, Dalam hal ini guru memberikan dorongan situasi agar subyek didik mampu melakukan proses belajar.

2.      Hukum-hukum Pengamatan (Hukum-hukum Belajar)

Menurut Aliran  Gestalt karena asumsi bahwa hukum-hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Melalui penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para tokoh Gestalt, disusunlah hukum-hukum Gestalt yang berhubungan dengan pengamatan (Fudyartanto,2002) sebagai berikut :

a.       Hukum Pragnanz (good form)

Hukum Pragnanz merupakan hukum umum dalam psikologi Gestalt. Hukum ini menyatakan bahwa organisasi psikologis selalu cenderung untuk bergerak ke arah penuh arti Pragnanz. Menurut hukum ini jika seseorang mengamati sebuah atau sekelompok objek, maka orang tersebut akan cenderung memberi arti terhadap objek yang diamatinya, dengan memberikan kesan sedemikian rupa terhadap objek tersebut. Kesan yang memberi arti terhadap objek mungkin didasarkan pada warna, bentuk, ukuran dan sebagainya.

b.      Hukum Kesamaan (law of similarity)

Hukum ini menyatakan hal-hal yang sama cenderung membentuk Gestalt atau kesatuan. Semisal gambar di bawah ini :

Contoh : Gambar 3

clip_image010 

Melihat gambar di atas, orang akan cenderung melihat ke arah kanan karena ada persamaan objeknya dan orang mengamatai deretan mendatar sebagi suatu kesatuan (gestalt.) deretan-deretan gambar ke kanan membentuk organisasi psikologis yang cenderung bergerak pada keadaan penuh arti, yaitu deretan-deretan bentuk O, X, dan O, lebih berarti dari pada deretan O kebawah.  Dengan kata lain hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas.

c.       Hukum Keterdekatan (law of proximity)

Hukum yang menyatakan bahwa hal-hal yang saling berdekatan cenderung membentuk kesatuan.

Contoh :  

clip_image011

Gambar 4

Garis-garis di atas akan terlihat sebagai tiga kelompok garis yang masing-masing terdiri dari dua garis, ditambah dengan satu garis yang berdiri sendiri di sebelah kanan sekali.

clip_image013

Gambar 5

d.      Hukum Ketertutupan (law of closure)

Prinsip hukum ketertutupan ini menyatakan bahwa hal-hal yang tertutup cenderung membentuk gestalt,

Menyatakan bahwa kita mempunyai tendensi untuk melengkapi atau mengisi pengalaman-pengalaman yang tidak lengkap, agar menjadi lebih berarti.  Atau hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri. Contoh :

clip_image014

Gambar 6

Gambar garis-garis di atas akan dipersepsikan sebagai dua segi empat dan garis yang berdiri sendiri di sebelah kiri, tidak dipersepsikan sebagai dua pasang garis lagi setelah ada garis melintang yang hampir saling menyambung di antara garis-garis tegak yang berdekatan.

e.       Hukum kontinuitas

Hukum ini menyatakan bahwa hal-hal yang kontinu atau yang merupakan kesinambungan (kontinuitas) yang baik akan mempunya tendensi untuk membentuk kesatuan atau gestalt.

Orang akan cenderung mengasumsikan pola kontinuitas pada obyek-obyek yang ada.

 

Contoh 1 :

clip_image015

Gambar 7

Pada gambar diatas, kita akan cenderung mempersepsikan gambar sebagai dua garis lurus berpotongan, bukan sebagai dua garis menyudut yang saling membelakangi.

Contoh 2 :

clip_image017

Gambar 8

3.      Memecahkan Problem (Problem Solving), Mendapatkan pencerahan (Insight)

Dalam teori belajar menurut Gestalt, yang terpenting dalam belajar adalah adanya penyesuaian pertama, yaitu memperoleh respon yang tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Belajar yang penting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti/memperoleh  insight  (pemahaman). Insight barulah berfungsi bila ada persepsi terhadap masalahnya. Hilgard ( 1948 : 190-195) (Sumadi Suryabrata, 1984:302-304) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan  insight, sebagai berikut:

a.    Insight  itu dipengaruhi oleh kemampuan dasar.

Kemampuan dasar itu berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan  insight ini.

b.  Insight  itu dipengaruhi oleh pengalaman belajar masa lampau yang relevan. Walaupun insight itu tergantung kepada pengalaman masa lampau yang relevan, namun memiliki pengalaman masa lampau tersebut belum menjamin dapatnya memecahkan masalah. Jadi misalnya anak tidak dapat mengerjakan problem aljabar, kalau dia belum tahu menggunakan simbol-simbol dalam aljabar tersebut terlebih dahulu (dari masa lampau), tetapi anak yang telah menguasai simbol-simbol tersebut serta mengetahui cara-cara pemecahan problem dalam aljabar belum tentu dapat memecahkan problem tersebut. Disinilah letak perbedaan antara teori Gestalt dengan teori assosiasi yang beranggapan bahwa hanya memiliki pengalaman masa lampau yang diperlukan  seseorang akan dapat memecahkan problem, sebab pemecahan-pemecahan problem berarti penerapan operation-operation yang telah dipelajari.

c.   Insight  tergantung kepada pengaturan secara eksperimental.  Insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diambil. Apabila alat yang diperlukan untuk pemecahan problem itu dapat dibuat seakan-akan menjadi tidak mungkin, maka problem menjadi lebih sukar.

d.    Insight  itu didahului oleh suatu periode mencoba-coba.

Insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan hádala hal yang  harus  di cari. Sebelum dapat memperoleh insight orang harus sudah meninjau problemnya dari  berbagai arah dan mencoba-coba memecahkan.

e.    Belajar yang dengan  Insight  itu dapat diulangi. Jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan  insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia akan dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.  

f.     Insight yang telah sekali di dapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.

Belajar  yang disertai insight (insight full learning) biasanya mempunyai empat ciri. 

1.      Transisi dari  pemecahan permulaan sampai pemecahan terjadi dengan tiba-tiba.

2.      Pemecahan yang dilakukan dengan  insight biasanya lancar dan bebas dari  kesalahan.

3.      Pemecahan masalah yang disertai insight, dipegang teguh untuk pertimbangan lamanya waktu.

4.      Satu prinsip adanya insight adalah mudahnya aplikasi terhadap problem yang lain.

 

D.    APLIKASI TEORI GESTALT PADA PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

Sebelum membahas teori Gestalt  dalam proses belajar ada baiknya membahas prinsip-prinsip belajar menurut teori ini yaitu:

a.    Belajar berdasarkan keseluruhan

Orang berusaha menghubungkan pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lainnya.

b.      Belajar adalah suatu proses perkembangan

Materi dari belajar baru dapat diterima dan dipahami dengan baik apabila individu tersebut sudah cukup matang untuk menerimanya. Kematangan dari individu dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan individu tersebut.

c.       Siswa sebagai organisme keseluruhan

Dalam proses belajar, tidak hanya melibatkan intelektual tetapi juga emosional dan fisik individu.

d.      Terjadinya transfer

Tujuan dari belajar adalah agar individu memiliki respon yang tepat dalam suatu situasi tertentu. Apabila satu kemampuan dapat dikuasai dengan baik maka dapat dipindahkan pada kemampuan lainnya.

e.       Belajar adalah reorganisasi pengalaman

Proses belajar terjadi ketika individu mengalami suatu situasi baru. Dalam menghadapinya, manusia menggunakan pengalaman yang sebelumnya telah dimiliki.

f.        Belajar dengan insight

Dalam proses belajar, insight berperan untuk memahami hubungan diantar unsur-

unsur yang terkandung dalam suatu masalah.

g.      Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa

Hal ini tergantung kepada apa yang dibutuhkan individu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hasil dari belajar dapat dirasakan manfaatnya.

h.      Belajar berlangsung terus-menerus

Belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Belajar dapat diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu setiap waktu.

Banyak praktik pendidikan dan pengajaran yang menggunakan dasar psikologi Ilmu Jiwa Gestalt. 

1.      Dalam bidang Kurikulum

Kurikulum concentris merupakan pengetrapan prinsip-prinsip ilmu Jiwa Gestalt. Kurikulum ini mempunyai pusat yang sama (con-centris). Dalam tingkatan yang rendah, disusun kurikulum dari suatu kesatuan yang utuh. Disini diajarkan yang pokok-pokok secara garis besar. Di tingkat yang lebih tinggi, kesatuan itu diberikan lagi, tetapi dibahas lebih mengarah ke bagian-bagian lebih mendalam. Sedang ditingkat yang lebih tinggi lagi, kesatuan tersebut tetap digunakan, tetapi dibahas menjadi kesatuan-kesatuan yang lebih mendalam lagi. Begitu seterusnya. Dalam perwujudan dan perkembangan selanjutnya, kurikulum concentris ini dapat terwujud dalam:

a.       Penagajaran pusat minat

b.      Penagajaran Proyek

c.       Penagajaran alam sekita

d.      Salah satu prinsip dalam sistim among oleh Ki Hajar Dewantara.

2.      Dalam Bidang Didaktik Metodik

Dalam bidang Didaktik Metodik, khususnya mengenai metode mengajar membaca, menulis. Pengaruh Ilmu Jiwa Gestalt itu sangat besar. Ternyata pengetrapan Ilmu Jiwa Gestalt dalam metode mengajar membaca menulis itu telah mampu menggoyahkan metode mengajar yang telah berabad-abad sejak zaman Yunani Kuno hingga awal abad 20 ini. Di indonesia khususnya, metode mengajar membaca menulis dengan metode mengeja ini masih ada guru yang melakukan, meskipun secara resmi pemerintah telah mengganti dengan metode global (secara resmi digunakan istilah metode S.A.S = Struktural Analitis Sintesis). Secara singkat dapat dibandingkan metode mengeja dengan metode global sebagai berikut:

a.       Metode Mengeja

Ø  Permulaan sekali, murid dihadapkan pada huruf yang justru merupakan elemen terkecil. Hal ini sangat asing bagi anak. Kita melakukan persepsi bukan dari elemen dulu, tetapi sebaliknya, secara keseluruhan (global) dulu, baru menuju bagian atau elemen. Metode eja menyalahi prinsip Gestalt.

Ø  Murid pertama kali belajar telah dihadapkan pada huruf. Huruf itu bagi anak belum dikenal, tidak mempunyai makna (arti). Seharusnya dimulai dari suatu kebulatan kesatuan yang mengandung makna. Jadi metode eja menyalahi prinsip Insightfullness.

Ø  Dalam menghubungkan kata, murid-murid banyak mengalami kesukaran, karena selain tidak dikenal (tanpa arti) juga tidak merupakan figur. Akibatnya sukar terjadi prinsip closure.

Ø  Dilihat dari segi prestasi, metode mengeja kurang memuaskan, salah satunya adalah murid membaca terputus-putus, sebab setiap selesai membaca satu kata, ia berhenti untuk mengeja kata berikutnya. Hal ini kadang-kadang masih tampak pada murid SMP.

b.      Metode Belajar Global

Menggunakan dasar psikologis Ilmu Jiwa Gestalt. Metode membaca global dirintis oleh Dr. Ovide De Croly. Di Indonesia dikenal dengan metode S.A.S.

Ø  Permulaan sekali, anak telah dihadapkan pada cerita pendek yang telah dikenal anak dalam kehidupan keluarga. Cerita ini jelas merupakan satu kesatuan yang telah dikenal anak. Maka dengan mudah anak itu segera dapat membaca seluruhnya secara hafalan. Biarkan murid membaca sambil menunjuk kalimat yang tidak cocok dengan yang diucapkan.

Ø  Menguraikan cerita pendek tersebut menjadi kalimat-kalimat. Guru secara alamiah menunjukkan bahwa cerita pendek itu terdiri dari kalimat-kalimat. Misalnya dengan cara :

·         Kalimat yang satu dengan yang lain ditulis dengan warna yang berbeda.

·         Kalimat satu dengan yang lain ditulis dengan jarak yang cukup renggang. Biasanya setelah 2 atau 3 minggu murid telah dapat membedakan kalimat satu dengan yang lain. Murid telah mengingat kalimat-kalimat.

·         Memisahkan kalimat-kalimat menjadi kata-kata

Dapat dengan berbagai cara, misal:

1)      Tiap-tiap kata ditulis dengan warna yang berbeda-beda

2)      Tiap-tiap kata ditulis agak berjauhan

3)      Ditulis dengan susunan tiap kata semakin menurun

4)      Dibaca pelan-pelan sambil menunjuk tiap kata

·         Memisahkan kata-kata menjadi suku kata. Dalam periode tertentu, setelah murid mengerti suku kata, diteruskan,

·         Memisahkan suku kata menjadi huruf. Dalam fase ini, barulah murid diajarkan bunyi tiap-tiap huruf (pertengahan tahun).

·         Setelah murid mengenal huruf, diajarkan menyusun huruf menjadi suku kata.

·         Menyusun suku kata menjadi kata.

·         Menyusun kata menjadi kalimat. Untuk melaksanakan proses menyusun kembali, dapat dilakukan dengan bermacam permainan yang menarik.    Contoh pembelajaran yang cocok menerapkan teori kognitif selain pada pelajaran bahasa : seperti mengarang, menganalisis isi buku, juga pada pelajaran matematika fisika, kimia atau biologi: yaitu dengan metode belajar yang berbasis masalah (studi kasus), eksperimen. Danpada pelajaran IPS berupa observasi, wawancara dan membuat laporannya.

3.      Dalam metodik mengajar

Sangat penting artinya bagi individu (murid), bila ia dapat menemukan pemahaman (insight) dengan caranya sendiri tanpa diberi tahu. Karena  itu guru harus pandai mengatur strategi (membuat siasat) bagaimana cara mengajar untuk menimbulkan pemahaman (insight) oleh murid sendiri tanpa murid merasa digurui secara langsung. Buatlah siasat agar murid menemukan pemahaman sendiri. Metode ini terkenal  dengan metode problem solving (pemecahan masalah).

4.        Beberapa contoh dalam pembelajaran matematika

a.    Wertheimer (1961) also recorded the well known story of Gauss who, as quite ayoung child, is reputed to have found a simple solution to the problem of summingany set of consecutive natural numbers. Given, for simplicity, 1+2 + 3+4 + 5 + 6 +7 + 8 + 9+10, insight into the structure might bring to light that 1 + 10 = 2 + 9 = 3+ 8 = 4 + 7 = 5+6=11 , and hence the sum is 5×11 = 55.

b.     

clip_image018

Gambar 8

2(1+ 2 + 3 + 4 +5) = 5×6

and hence, in general,

2(1 +2 + . . . + n) = n(n+ 1).

Whether many pupils are capable of the kind of insight reputedly shown by Gaussis an open question. What is clearly suggested by Gestalt theory is that demonstrationof a result by the teacher might not lead to insight for the pupil. Exposition of how tocalculate the area of a parallelogram, perhaps based on proving congruence of the twosmall triangles, will not necessarily ensure that the pupils understand why it isrequired that the triangles should be proved congruent. Insight comes as an aspect ofthe discovery process. The situation needs to be structured so as to make the necessarydiscovery as certain as possible. The insight gained may then be transferred, and areas of triangles and trapeziums understood.

Referensi :

Orton, (2004). Learning Mathematic. Library of congress cataloguing in publication data. London

Implementasi Teori Belajar Gestalt pada Proses Pembelajaran. Oleh: Titin Nur Hidayati.

Baharuddin, (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran.AR-RUZZ MEDIA. Yogyakarta.

http://eprints.uny.ac[dot]id/7811/3/BAB%202%20-%2010601247004.pdf

Leave a Reply

%d bloggers like this: