Mengenal Teori Vygotsky

A.       Biografi Vygotsky

clip_image002[5]Lev Semyonovich Vygotsky, beliau lahir pada tahun 1896 di kota Orsha Rusia yang merupakan keturunan Yahudi. Vygotsky adalah seorang sarjana Hukum, lulusan Universitas Moskow pada tahun 1917, kemudian melanjutkan studi dalam bidang filsafat, psikologi, dan sastra pada fakultas Psikologi Universitas Moskow dan lulus pada tahun 1925 dengan judul disertasi “The Psychology of Art”.  Vygotsky melakukan banyak penelitian mengenai proses berpikir anak antara tahun 1920-1934 (Ormrod, 1995:179). Dalam pengantar buku The Collected Works of L.S Vygotsky (1987), Bruner mengemukakan bahwa Vygotsky bukan hanya seorang ahli psikologi, tetapi juga teoritis kebudayaan.

Selama hidupnya Vygotsky mendapatkan tekanan yang begitu besar dari pemegang kekuasaan dan para penganut ideologi politik di Rusia untuk mengadaptasi teorinya. Beliau wafat pada usia yang masih muda (38 tahun), pada tahun 1934 akibat menderita penyakit tuberculosis (TBC). Setelah meninggal barulah seluruh ide dan teorinya diterima oleh pemerintah dan tetap dianut dan dipelajari oleh mahasiswanya. Oleh karena itu berkat karyanya yang luar biasa di bidang psikologi, bangsa Rusia menjulukinya “Mozartnya Psikologi”.

B.       Teory Pembelajaran Vygotsky

Semasa hidupnya Vygotsky sangat produktif dengan karya-karyanya. Vygotsky banyak menghasilkan teori psikologi mengenai perkembangan intelektual, antaranya bahasa dan pemikiran; peranan interaksi sosial; dan ZPD (Zone of Proximal Development). Vygotsky juga menekankan pentingnya memanfaatkan lingkungan dalam pembelajaran. Lingkungan sekitar siswa meliputi orang-orang, kebudayaan, termasuk pengalaman dalam lingkungan tersebut. (Taylor, 1993).

a.        Bahasa dan Pemikiran

Menurut Vygotsky anak-anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk merencanakan, dan memonitor perilaku dengan cara mereka sendiri yang dinamakan pembicaraan batin (inner speech). Pengetahuan ilmiah terbentuk dari sebuah proses relasi anak dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini bergantung pada seberapa besar kemampuan anak dalam menangkap model yang lebih ilmiah. Dalam proses ini bahasa memegang peranan yang sangat penting. Bahasa sebagai alat berkomunikasi yang membantu anak dalam menyampaikan pemikirannya dengan orang lain. Dengan demikian diperlukan sebuah penyatuan antara pemikiran dan bahasa.

Kita sering memperhatikan bahwa anak-anak sering berbicara sendiri dan seolah berbicara dengan orang lain. Menurut Vygotsky hal ini merupakan pembicaraan batin, tetapi menurut Piaget hal ini menunjukan bahwa anak tersebut belum dewasa.

Pola pembicaraan bantu (inner speech) merupakan transisi awal untuk lebih komunikatif sosial. Menurut Vygotsky bahwa bahasa merupakan bentuk dan berbasis sosial. Menurut beberapa penelitian, inner speech yang diungkapkan oleh Vygotsky memang merupakan faktor perkembangan anak (Winsler, Diaz & Motero, 1997).

b.        Peranan Interksi Sosial

Dalam pandangan Vygotsky setiap individu berkembang dalam konteks sosial. Semua kerja kognitif tingkat tinggi pada manusia mempunyai asal-usul dalam interaksi sosial setiap individu dalam konteks budaya tertentu (Brunning, 1995:218). Kognisi merupakan internalisasi dari interaksi sosial (Wilson dkk, 1993:80). Teori kognisi sosial Vygotsky ini mendorong perlunya landasan sosial yang baru untuk memahami proses pendidikan.

Vygotsky sangat menekankan pentingnya peranan lingkungan kebudayaan dan interaksi sosial dalam perkembangan sifat-sifat dan tipe-tipe manusia (Slavin, 2000:46). Menurut Vygotsky siswa sebaiknya belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Interaksi sosial ini memicu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelekstual siswa. Konsep ini oleh Vygotsky dinamakan pemagangan kognitif (cognitive apprenticeship). Pemagangan kognitif mengacu pada proses di mana seseorang yang sedang belajar tahap demi tahap memperoleh keahlian melalui interaksinya dengan pakar. Pakar yang dimangsud di sini adalah orang yang menguasai permasalahan yang dipelajari. Jadi, dapat berupa orang dewasa atau kawan sebaya (Slavin, 2000:270).

Dalam proses belajar setiap anak akan melewati dua tingkat dalam proses belajar yang pertama pada level sosial, yaitu anak melakukan kolaborasi dengan orang lain dan yang kedua pada level individual, yaitu anak melakukan proses internalisasi (Jones&Thornton, 1993:18). Internalisasi merupakan proses transformasi tindakan eksternal (perilaku) menjadi psikologis internal (proses). Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, guru hendaknya mengorganisasikan situasi kelas dan menerapkan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa saling berinteraksi dengan temannya dan guru, serta menstimulus keterlibatan siswa melalui pemecahan masalah yang membutuhkan kehadiran orang lain (guru atau teman sebaya yang lebih memahami masalah) dan memberikan bantuan di saat mereka mengalami kesulitan.

c.         ZPD (Zone of Proximal Development)

Salah satu konsep yang dikemukakan Vygotsky yaitu Zone of Proximal Development atau Daerah Perkembangan Terdekat. Menurut Vygotsky, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten.

Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi apabila siswa bekerja atau belajar menangani tugas-tugas atau maslah kompleks yang masih berada pada jangkauan kognitif siswa atau tugas-tugas tersebut berada pada Daerah Perkembangan Terdekat (ZPD).

Vygotsky (Taylor, 1993: 5) mendefinisikan Zone of Proximal Development (ZPD) sebagai berikut,

Zone of proximal development is the distance between the actual development level as determined through independent problem solving and the level of potensial development ad determined through problem solving under adult guidance or in collaboration with more capable peers.

ZPD adalah jarak antara taraf perkembangan aktual, seperti yang nampak dalam pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial, seperti yang ditunjukkan dalam pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau dengan bekerja sama dengan teman sebaya yang lebih mampu.

Taraf perkembangan aktual merupakan batas bawah ZPD, sedangkan taraf perkembangan potensial merupakan batas atasnya. Vygotsky juga mencatat bahwa dua anak yang mempunyai taraf perkembangan aktual yang sama, dapat berdeda taraf perkembangan potensialnya. Jadi ZPD mereka masing-masing berlainan meskipun berada dalam situasi belajar yang sejenis (Jones&Thornton, 1993:20).

Jika sebuah masalah dapat diselesaikan secara mandiri oleh siswa, maka siswa tersebut telah berada pada taraf kemampuan aktualnya. Tetapi, jika masalah tersebut baru dapat diselesaikan oleh siswa setelah mendapatkan bantuan dengan orang lain yang lebih memahami masalah, maka siswa tersebut berada dalam kemampuan potensialnya. Jika guru mengajukan masalah untuk dipecahkan oleh siswa sebaiknya masalah tersebut berada diantara taraf kemampuan aktual dan taraf kemampuan potensial atau berada pada daerah jangkauan kognisi siswa.

Interaksi sosial antara anak dan orang dewasa mempunyai peranan penting dalam ZPD. Interaksi tersebut, mula-mula anak akan mengalami kegiatan pemecahan masalah secara aktif dengan kehadiran orang lain, tetapi kemudian secara berangsur-angsur dia mampu menyelesaikannya secara mandiri. Proses internalisasi berlangsung secara bertahap, mula-mula orang dewsa mengatur dan memandu kegiatan anak, tetapi secara berangsur-angsur orang dewasa dan anak mulai bersama-sama mengerjakan penyelesaian masalah, dengan anak itu mengambil inisiatif, sedangkan orang dewasa memeriksa dan memandu di kala anak tersebut tidak lancar. Akhirnya orang dewasa menyerahkan pengaturan kepada anak itu sendiri dan sekarang dia perperan terutama sebagai pendengar yang bersifat mendukung dan simpatik.

The More Knowledgeable Other (MKO), dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi orang lain yang lebih tahu. MKO mengacu kepada siapa saja yang mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dari siswa, dalam hal ini termasuk guru, teman sebaya, atau bahkan komputer. Seorang pelajar perlu berinteraksi dengan orang yang mempunyai pengetahun lebih dari dirinya. Karena hal tersebut akan lebih memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan sosial kognitif pelajar siswa. Pengaturan dan panduan yang diberikan oleh orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu itu disebut scaffolding. Scaffolding adalah pemberian bantuan(tuntunan) yang dapat mendukung siswa lebih kompeten dalam usahanya menyelesaikan tugas di daerah jangkauan kognitifnya. Scaffolding dapat berupa penyederhanaan tugas, memberikan petunjuk kecil mengenai apa yang harus dikerjakan oleh siswa, pemberian model prosedur penyelesaian tugas, menujukkan kepada siswa apa saja yang telah dilakukannya dengan baik., pemberitahuan kekeliruan yang dilakukan siswa dalam langkah pengerjaan tugas, dan menjaga agar rasa frustasi siswa masih berada pada tingkat yang masih ditanggungnya. Pemberian tuntunan berangsur-angsur harus dikurangi seiring dengan semakin mahirnya siswa menyelesaikan tugas.

               Menurut Tharp & Gallimore (1988:35) tingkat perkembangan ZPD terdiri dari empat tahap,

1)        More Dependence toOthers Stage

Tahapan dimana kinerja anak mendapat banyak bantuan dari pihak lain, seperti teman-teman sebayanya,orang tua, guru, masyarakat, ahli. Dari sinilah muncul model pembelajaran kooperatif atau kolaborasi dalam mengembangkan kognisi anak secara konstruktif.

2)        Less Dependence External Assistence Stage

Tahap dimana kinerja anak tidak lagi terlalu banyak mengharapkan bantuan dari pihak lain, tetapi lebih kepada self assistance, lebih banyak anak membantu dirinya sendiri.

3)        Internalization and Automatization Stage

Tahap dimana kinerja anak sudah lebih terinternalisasi secara otomatis. Kesadaran akan pentingnya pengembangan diri dapat muncul dengan sendirinya tanpa paksaan dan arahan yang lebih besar dari pihak lain. Walapun demikian, anak pada tahap ini belum mencapai kematangan yang sesungguhnya dan masih mencari identitas diri dalam upaya mencapai kapasitas diri yang matang.

4)        De-automatization Stage

Tahap dimana kinerja anak mampu mengeluarkan perasaan dari kalbu, jiwa, dan emosinya yang dilakukan secara berulang-ulang, bolak-balik, recursion. Pada tahap ini, keluarlah apa yang disebut dengan de-automatisation sebagai puncak dari kinerja sesungguhnya.

d.        Implikasi teori Vygotsky dalam pembelajaran Matematika

Pembelajaran Matematika bertujuan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif siswa dalam bermatematika. Oleh karena itu landasan sosial bagi pembelajaran matematika merupakan suatu keharusan. Vygotsky memperkuat dengan posisi filsafat konstruktivisme sosial berkeyakinan bahwa pengetahuan matematika suatu bentukan (konstruksi) secara sosial (Ernest, 1991:42). Jadi pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran matematika merupakan imperatif dari dua arah yaitu, dari segi psikologis siswa yang belajar dan dari segi bahan matematika yang dipelajari.

Proses pembelajaran matematika dikelas juga hendaknya bersifat interaktif, baik antara siswa dan guru maupun antar siswa. Interaksi ini mengarah sampai kedua belah pihak mampu mengerti, memeriksa, dan bernegosiasi. Guru matematika di kelas juga perlu menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mengalami internalisasi.

Interaksi sosial dalam pembelajaran matematika jangan hanya di batasi dalam bentuk kegiatan interaktif di kelas, tetapi juga mencakup interaksi siswa dengan konteks sosial budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menghadirkan masalah-masalah kontekstual sehingga masalah-masalah tersebut menjadi bermakna secara sosial bagi siswa.

Pemberian masalah dalam pembelajaran matematika, guru harus memberikan permasalahan berada pada ZPD. Tuntunan yang diberikan guru matematika untuk membawa seorang siswa dari taraf kemampuan aktual ke taraf kemampuan potensialnya paling baik memanfaatkan pengalaman belajar yang telah dimiliki siswa itu pada taraf aktualnya.

ZPD sifatnya sangat khas untuk setiap individu. Kekhasan ini timbul karena variasi jarak antara taraf kemampuan aktual dan taraf kemampuan potensial. Hal ini semakin menegaskan perlunya perhatian guru matematika terhadap para siswa secara individual.ZPD juga melihatkan peranan teman sebaya untuk mendukung pembelajaran sehingga dalam pembelajaran matematika penting dikakukan secara kolaboratif. Oleh karena itu, kelas dengan siswa yang bervariasi kemampuan matematikanya masih perlu dipertahankan, tetapi seiring dengan itu perhatian individu tetap diperlukan.

e.         Kelebihan dan Kekurangan teori Vygotsky

Adapun kelebihan dan kekurangan teori Vygotsky adalah sebagai berikut, kelebihan teori ini: 1) mengurangi kesenjangan antar siswa; 2) membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah; dan 3) memberikan kesempatan yang lebih pada siswa untuk saling berinteraksi.

Sedangkan kekurangan teori ini terbatas pada perilaku yang tampak, proses-proses belajar yang kurang tampak sukar diamati secara langsung. Guru hanya memberikan penjelasan secara umum dan siswa di suruh mengembangkan sendiri pengetahuan yang di dapatkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ernest, P. 1991. The Philosophy of Mathematics Education. London: The Palmer Press.

Ormrod, J. E. 1995. Human Learning, Edisi 2. Englewood Cliffs, N. J: Prentice-Hall.

Taylor, L. 1993. “Vygotsky influences in mathematics education, with particular reference to attitude development”. Focus on Learning Problems in Mathematics : Vol 15, Pages 3-17.

Brunning, R. H, Schraw, G. J & Ronning R. R. 1995. Cognitive Psychology and Instruction. Edisi 2. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology, Edisi 3. Boston: Allyn & Bacon

Jones, G.A & Thornton, CA.1993. “Vygotsky Revisites: Nurturing Young Chilfren’s Understanding of Number”. Focus on Learning Problems in Mathematics : Vol 15, pages 18-28.

Yohanes, Rudi Santoso. 2010. Teori Vygotski dan implikasinya terhadap pembelajaran matematika. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP : Universitas Katholik Widya Mandala Madiun.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: