Welcome to sudianto.net

Welcome to sudianto.net

You can learn all about computer and technology, mobile development, learning mathematics with different ways, find information about something, chord, education & more. More »

 

Category Archives: Pendidikan

Kumpulan E-book BSE SMA/MA Kurikulum 2013 Revisi 2017 Terbaru

Sudianto.net – Berikut adalah link untuk mendownload kumpulan e-book BSE SMA/MA kurikulum 2013 revisi 2017 terbaru. Bagi para siswa maupun guru yang ingin mempelajari atau mendownload silahkan ada pada link dibawah ini

Download E-Book BSE Matematika SMA/MA Kelas X, XI Revisi 2017

  1. Download BSE Matematika SMA Kelas X (Buku Guru) Revisi 2017
  2. Download BSE Matematika SMA Kelas X (Buku Siswa) Revisi 2017
  3. Download BSE Matematika SMA Kelas XI (Buku Guru) Revisi 2017
  4. Download BSE Matematika SMA Kelas XI (Buku Siswa) Revisi 2017

Download E-Book BSE Bahasa Inggris SMA/MA Kelas X, XI Revisi 2017

  1. Download BSE Bahasa Inggris SMA Kelas X (Buku Guru) Revisi 2017
  2. Download BSE Bahasa Inggris SMA Kelas X (Buku Siswa) Revisi 2017
  3. Download BSE Bahasa Inggris SMA Kelas XI (Buku Guru) Revisi 2017
  4. Download BSE Bahasa Inggris SMA Kelas XI (Buku Siswa) Revisi 2017

Download E-Book BSE Bahasa Indonesia SMA/MA Kelas X, XI Revisi 2017

  1. Download BSE Bahasa Indonesia SMA Kelas X (Buku Guru) Revisi 2017
  2. Download BSE Bahasa Indonesia SMA Kelas X (Buku Siswa) Revisi 2017
  3. Download BSE Bahasa Indonesia SMA Kelas XI (Buku Guru) Revisi 2017
  4. Download BSE Bahasa Indonesia SMA Kelas XI (Buku Siswa) Revisi 2017

Kumpulan E-book BSE SMP/MTS Kurikulum 2013 Revisi 2017 Terbaru

Sudianto.net – Berikut adalah link untuk mendownload kumpulan e-book BSE SMP/MTS kurikulum 2013 revisi 2017 terbaru. Bagi para siswa maupun guru yang ingin mempelajari atau mendownload silahkan ada pada link dibawah ini

Download kumpulan e-book BSE matematika SMP/MTS kelas VII, VIII Revisi 2017

  1. Download BSE Matematika SMP Kelas VII (Buku Guru) Revisi 2017
  2. Download BSE Matematika SMP Kelas VII (Buku Siswa) Revisi 2017  
  3. Download BSE Matematika SMP Kelas VIII (Buku Guru) Revisi 2017
  4. Download BSE Matematika SMP Kelas VIII (Buku Siswa) Revisi 2017

Download Kumpulan e-book BSE Bahasa Indonesia SMP/MTS Kelas VII, VIII Revisi 2017

  1. Download BSE Bahasa Indonesia SMP Kelas VII (Buku Guru) Revisi 2017
  2. Download BSE Bahasa Indonesia SMP Kelas VII (Buku Siswa) Revisi 2017
  3. Download BSE Bahasa Indonesia SMP Kelas VIII (Buku Guru) Revisi 2017
  4. Download BSE Bahasa Indonesia SMP Kelas VIII (Buku Siswa) Revisi 2017

Download kumpulan e-book BSE Bahasa Inggris SMP/MTS kelas VII, VIII Revisi 2017

  1. Download BSE Bahasa Inggris SMP Kelas VII (Buku Guru) Revisi 2017
  2. Download BSE Bahasa Inggris SMP Kelas VII (Buku Siswa) Revisi 2017
  3. Download BSE Bahasa Inggris SMP Kelas VIII (Buku Guru) Revisi 2017
  4. Download BSE Bahasa Inggris SMP Kelas VIII (Buku Siswa) Revisi 2017

Download kumpulan e-book BSE IPA SMP/MTS kelas VII, VIII Revisi 2017

  1. Download BSE IPA SMP Kelas VII (Buku Guru) Revisi 2017
  2. Download BSE IPA SMP Kelas VII (Buku Siswa 1) Revisi 2017
  3. Download BSE IPA SMP Kelas VII (Buku Siswa 2) Revisi 2017
  4. Download BSE IPA SMP Kelas VIII (Buku Guru) Revisi 2017
  5. Download BSE IPA SMP Kelas VIII (Buku Siswa 1) Revisi 2017
  6. Download BSE IPA SMP Kelas VIII (Buku Siswa 2) Revisi 2017

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS)

    A.    Definisi HOTS (High Order Thinking)

Stein dan Lane (dalam Thompson, 2008) mendefinisikan higher order thinking yaitu memberikan pemikiran yang kompleks, tidak ada algoritma untuk menyelesaikan suatu tugas, ada yang tidak dapat diprediksi, menggunakan pendekatan yang berbeda dengan tugas yang telah ada dan berbeda dengan contoh-contoh yang telah diberikan.

Resnick (dalam Arends, 2008) mendefinisikan higher order thinking sebagai berikut:

a.         Higher-order thinking is nonalgorithmic; that is, the path of action is not fully specified in advance.

b.         Higher-order thinking tends to be complex.

c.         Higher-order thinking often yields multiple solutions, each with costs and benefits, rather than unique solutions.

d.         Higher-order thinking involves nuanced judgment and interpretation.

e.         Higher-order thinking is effortful. There is considerable mental work involved in thekinds of elaborations and judgments required.

Definisi yang diungkapkan oleh Resnick berpikir tingkat tinggi yaitu non-algoritmik yang arah penentuan jawaban tidak spesifik. Soal yang melibatkan proses berfikir tingkat tinggi cenderung kompleks dan merupakan soal yang memiliki banyak solusi maka dapat dikatakan bahwa jenis soal HOT salah satunya merupakan soal open-ended, melibatkan pendapat serta interpretasi dalam memecahkan masalah, dan melibatkan mental dalam bekerja seperti elaborasi dari berbagai macam hal serta memerlukan pertimbangan dan usaha yang tinggi.

Berpikir matematis dibagi menjadi dua level berdasarkan pendalaman materi serta kekomplekannya yaitu berpikir tingkat rendah dan berpikir tingkat tinggi. Hal ini diperjelas oleh Webb & Coxford (dalam Nishitani 2010;11) mengklasifikasi beberapa kegiatan dalam pembelajaran matematika seperti mengerjakan aritmatika sederhana, menggunakan aturan matematika secara langsung dan mengerjakan tugas algoritma merupakan golongan berpikir tingkat rendah. Sedangkan pemahaman yang berarti, memunculkan dugaan, membuat analogi dan generalisasi, logika yang beralasan, pemecahan masalah, mempresentasikan hasil matematika, dan dapat membuat hubungan antara dugaan, analogi serta logika termasuk kedalam berpikir tingkat tinggi.

Soal matematika dalam HOT juga salah satunya merupakan soal non-routine (soal yang tidak diketahui secara langsung penyelesaiannya). Seperti yang diungkapkan oleh Nishitani (2010;11) menyelesaikan soal matematika yang berlevel tinggi, siswa harus memiliki motivasi yang tinggi, antusias dan keinginan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan karena masalah yang diberikan tidak dapat diketahui secara langsung penyelesaiannya serta melalui beberapa proses.

Kemampuan Komunikasi Matematika

A.    Pengertian Komunikasi Matematika

Kata komunikasi berasal dari kata communication yang dalam Kamus  Inggris-Indonesia  berarti hubungan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa komunikasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Hadirnya komunikasi menyebabkan terjadinya relasi antar manusia dengan perantara “bahasa” sehingga menciptakan pemahaman antar keduanya.

Pada kajian konten matematika juga terdapat komunikasi, yaitu komunikasi matematika.

Communication refer to the ability to use mathematical language to express mathematical ideas and argument precisely, concisely, and logically (Kaur & Lam, 2012: 2).

 

Pengertian tersebut dijabarkan oleh Fathoni (2005) dalam Rofiah (2010) yang menyatakan bahwa  komunikasi yang terjadi dalam metematika diantaranya adalah sebagai berikut.

a.     Dunia nyata, antara lain ukuran dan bentuk lahan dalam dunia pertanian  (geometri), banyaknya barang dan nilai uang logam dalam dunia bisnis dan  perdagangan (bilangan), ketinggian pohon dan bukit (trigonometri).

b.  Struktur abstrak dari suatu sistem, antara lain struktur sistem bilangan (grup, ring), struktur penalaran (logika matematika), struktur berbagai gejala dalam kehidupan manusia (pemodelan matematika).

c.  Matematika sendiri yang merupakan bentuk komunikasi matematika yang digunakan untuk pengembangan diri matematika.

Dengan demikian, komunikasi matematika adalah kemampuan mendasar yang harus dimiliki oleh pembelajar (siswa) pada saat belajar matematika, yaitu untuk membangun hubungan bahasa abstrak matematika menjadi bahasa simbol matematika dengan tujuan memudahkan pembelajar itu sendiri dalam belajar matematika.

Aspek komunikasi matematika ada lima yaitu representasi, mendengarkan, membaca, diskusi dan menulis (Barood, 1993). Dalam representasi, mengolah bentuk baru sebagai hasil translasi dari suatu masalah atau ide. Translasi suatu diagram atau model fisik ke dalam simbol atau kata-kata. Misalnya, representasi bentuk perkalian ke dalam bentuk simbol atau kata-kata. Dalam mendengarkan, Baroody (1993) mengatakan mendengar secara hati-hati terhadap pertanyaan teman dalam suatu grup dapat membantu siswa mengkonstruksi lebih lengkap pengetahuan matematika dan mengatur strategi jawaban yang lebih efektif. Pentingnya mendengar secara kritis juga dapat mendorong siswa berpikir tentang jawaban pertanyaan sambil mendengar. Dalam membaca, reading atau membaca adalah aktivitas membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun. Guru perlu menyuruh siswa membaca secara aktif untuk menjawab pertanyaan yang telah disusun. Dalam diskusi, diskusi merupakan sarana untuk mengungkapkan dan merefleksikan pikiran siswa. Baroody (1993) mengemukakan suatu ide adalah cara yang baik bagi siswa untuk mengungkapkan ketidakkonsistenan atau suatu keberhasilan kemurnian berpikir. Dalam menulis, menulis adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan sadar untuk mengungkapkan dan merefleksikan pikiran. Rose dalam Baroody (1993) menyatakan bahwa menulis dipandang sebagai proses berpikir keras yang dituangkan di atas kertas.

Kemampuan Literasi Matematis

  A.    Pengertian Literasi Matematis

Literasi merupakan hak asasi manusia dan dasar untuk belajar sepanjang hayat, yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek tersebut adalah kebutuhan akan literasi matematika.16 Dalam PISA 2015 (Fathani, A.H., 2016: 140), literasi matematika didefinisikan sebagai berikut: 

“Mathematical literacy is an individual’s capacity to formulate, employ, and interpret mathematics in a variety of contexts. It includes reasoning mathematically and using mathematical concepts, procedures, facts and tools to describe, explain and predict phenomena. It assists individuals to recognise the role that mathematics plays in the world and to make the well -founded judgments and  decisions needed by constructive, engaged and reflective citizens.”

Sebelum dikenalkan melalui PISA, istilah literasi matematika telah dicetuskan oleh NCTM (Sari, R.H., 2015: 714), sebagai salah satu visi pendidikan matematika yaitu menjadi  melek/literate matematika. Dalam visi ini literasi matematika dimaknai sebagai “an individual’s ability to explore, to conjecture, and to reason logically as well as to use variety of mathematical methods effectively to solve problems. By becoming literate, their mathematical power should develop”. Pengertian ini mencakup 4 komponen utama literasi matematika dalam pemecahan masalah yaitu mengekplorasi, menghubungkan dan menalar secara logis serta mengunakan metode matematis yang beragam. Komponen utama ini digunakan untuk memudahkan pemecahan masalah sehari-hari yang sekaligus dapat mengembangkan kemampuan matematikanya. 

Lebih sederhana Ojose, B (Sari, R.H., 2015: 714) berpendapat bahwa literasi matematika merupakan pengetahuan untuk mengetahui dan menggunakan dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini, seseorang yang memiliki kemampuan literasi matematika yang baik memiliki kepekaan konsep-konsep matematika mana yang relevan dengan fenomena atau masalah yang sedang dihadapinya. Dari kepekaan ini kemudian dilanjutkan dengan pemecahan masalah   dengan mengunkan konsep matematika. 

Sejalan dengan pendapat tersebut, Stecey & Tuner (Sari, R.H., 2015: 714) mengartikan literasi dalam konteks matematika adalah untuk memiliki kekuatan untuk menggunakan pemikiran matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Pemikiran matematika yang dimaksudkan meliputi pola pikir pemecahan masalah, menalar secara logis, mengkomunikasikan dan menjelaskan. Pola pikir ini dikembangkan berdasarkan konsep, prosedur, serta fakta matematika yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Melengkapi pendapat sebelumnya, Steen, Turner & Burkhard menambahkan kata efektif dalam pengertian literasi matematika. Literasi matematika dimaknai sebagai kemampuan untuk mengunakan pengetahuan dan pemahaman matematis secara efektif dalam menghadapi tantangan kehidupan  sehari-hari. Seseorang yang literate matematika tidak cukup hanya mampu mengunakan pengetahuan dan pemahamannya saja akan tetapi juga harus mampu untuk mengunakannya secara efektif.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa literasi matematika adalah kemampuan seseorang individu merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks dalam memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.